Pada Jumat, militer AS mengakui serangan drone di Kabul pada 29 Agustus lalu tidak menewaskan satu teroris seperti yang ditargetkan, melainkan warga sipil. Militer AS menyebut serangan itu “kesalahan yang tragis”.
Serangan tersebut menewaskan 10 warga sipil, termasuk tujuh anak-anak.
“Kami sekarang menilai bahwa tidak mungkin kendaraan itu dan mereka yang tewas berkaitan dengan ISIS-K atau ancaman langsung terhadap pasukan AS,” jelas Kepala Komando Pusat AS, Jenderal Frank McKenzie kepada wartawan dalam konferensi pers, dikutip dari Al Arabiya, Minggu (19/9).
McKenzie memaparkan kepada wartawan linimasa yang mengarah pada keputusan serangan tersebut.
“Dengan jelas intelijen kami salah khususnya terkait Toyota Corolla putih tersebut,” lanjutnya.
Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin menyampaikan dia memerintahkan dilakukan tinjauan menyeluruh penyelidikan.
“Kami akan memeriksa tidak hanya apa yang kami putuskan untuk dilakukan dan yang tidak dilakukan pada 29 Agustus, tapi juga bagaimana kami menyelidiki hasilnya,” jelasnya.
“Kami berhutang itu kepada para korban dan orang-orang yang mereka cintai, kepada rakyat Amerika dan kepada diri kami sendiri,” jelas Austin dalam sebuah pernyataan.
Beberapa hari setelah serangan 29 Agustus, pejabat Pentagon menegaskan serangan itu dilaksanakan dengan tepat, walaupun 10 warga sipil terbunuh, termasuk tujuh anak-anak. Media kemudian meragukan klaim tersebut, melaporkan bahwa sopir pemilik mobil Toyota Corolla itu merupakan karyawan organisasi kemanusiaan Amerika dan tidak ada bukti yang mendukung klaim Pentagon yang menyatakan mobil tersebut berisi bahan peledak.
Sebelum serangan tersebut, intelijen AS mengindikasikan kendaraan Toyota itu akan digunakan untuk menyerang pasukan AS, kata McKenzie. Pada 29 Agustus pagi, mobil tersebut terdeteksi di sebuah halaman rumah di Kabul bahwa Intelijen AS dalam 48 jam sebelumnya memutuskan mobil itu digunakan kelompok ISIS untuk merencanakan dan memfasilitasi serangan.
Kendaraan itu ditelusuri pesawat drone AS dari halaman rumah tersebut ke sejumlah lokasi lainnya di Kabul sebelum keputusan dibuat untuk menyerangnya di sebuah titik hanya beberapa mil dari bandara Kabul.