Perdana Menteri (PM) Ethiopia, Abiy Ahmed pada Selasa menyerukan warga sipil yang memenuhi syarat untuk bergabung dengan pasukan bersenjata saat pertempuran pecah di berbagai wilayah di negara paling padat kedua di Afrika itu.
“Sekarang saatnya bagi semua rakyat Etiopia yang mampu untuk bergabung dengan Pasukan Pertahanan, Pasukan Khusus, dan milisi, dan tunjukkan patriotisme kalian,” jelas PM Abiy dalam sebuah pernyataan yang dirilis kantornya, dikutip dari AFP, Rabu (11/8).
Seruan Abiy ini kurang dari dua bulan setelah dia mengumumkan gencatan senjata unilateral dalam perang melawan pemberontak Tigray.
Ethiopia Utara dilanda kekerasan sejak November setelah Abiy, pemenang Nobel Perdamaian 2019, mengerahkan pasukan ke Tigray untuk menyingkirkan partai penguasa regional, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).
Tapi sembilan bulan kemudian, TPLF maju ke wilayah Afar dan Amhara, sementara petugas penyalur bantuan berusaha mencapai penduduk, di mana 400.000 orang menghadapi kelaparan di Tigray, menurut PBB.
Pada Selasa, kesabaran pemerintah nampaknya telah habis, di mana Abiy memerintahkan pasukan keamanan “untuk menghentikan penggempuran organisasi TPLF pengkhianat dan teroris dan intrik tangan asing sekali dan untuk selamanya".
Dalam pernyataannya, Abiy mengatakan mereka yang bisa terdaftar bergabung dengan pasukan keamanan bisa berkontribusi melalui cara lain seperti menyiapkan pasokan kebutuhan dan dukungan moral kepada tentara.
“Setiap orang Ethiopia harus bekerja sama dengan pasukan keamanan menjadi mata dan telinga negara untuk menelusuri dan mengungkap mata-mata dan agen teroris TPLF,” jelasnya.
Advertisement
Perang di wilayah tersebut telah menewasan ribuan orang dan sedikitnya 2 juta warga terpaksa melarikan diri. Kedua belah pihak saling menyalahkan sebagai penyebab kematian warga sipil.
Seorang pejabat medis di Afar menyampaikan kepada AFP pada Selasa, sebanyak 12 orang tewas dan puluhan terluka dalam sebuah serangan di tempat pengungsian warga sipil. Insiden itu terjadi pada 5 Agustus di daerah Galicoma, kata direktur medis Rumah Sakit Dubti Referral, Dr Abubeker Mahammud, di mana korban dirawat.
“Dua belas jasad tiba di rumah sakit,” ujarnya.
Dia mengatakan hampir 50 orang terluka, hampir 75 persen karena luka tembak. Para penyintas mengatakan kepada pejabat rumah sakit mereka ditembak pejuang TPPLF.
Menurut dua pejabat dari pemerintah regional Afar, angka kematian di Galicoma lebih dari 200, namun angka itu belum bisa diverifikasi.
Kepala badan perempuan dan anak-anak Afar, Ayish Yasin mengatakan kepada AFP, dari 200 jasad yang ditemukan, sebanyak 107 merupakan anak-anak; 48 anak perempuan dan 59 laki-laki.
Pejabat Ethiopia menganggap kematian di Galicoma sebagai bukti pengabaian TPLF atas situasi kemanusiaan yang memburuk di Tigray. Namun juru bicara TPLF, Getachew Reda mengatakan di Twitter pada Senin, pasukan pemerintah meluncurkan serangan pada 5 Agustus terhadap pasukan TPLF di Galicoma.
Reda mengatakan TPLF akan menyelidiki setiap insiden yang telah terjadi.
PM Abiy, yang mengklaim serangannya pada November lalu untuk membalas serangan TPLF di kamp tentara federal, menuduh pemberontak tersebut bertujuan menghancurkan Ethiopia.
TPLF berulang kali mengatakan pihaknya tidak bermaksud menguasai wilayah di Amhara dan Afar, dan mengatakan ingin memfasilitasi akses bantuan dan mencegah pasukan keamanan pro pemerintah berkumpul di wilayah itu.