PBB: 300.000 Warga Sipil Hadapi Kelaparan Darurat di Wilayah Konflik Ethiopia

Peringatan dari World Food Programme (WFP) ini muncul ketika perang terus meluas dan para pejabat melaporkan jatuhnya korban sipil baru di dua wilayah, Amhara dan Afar.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
PBB: 300.000 Warga Sipil Hadapi Kelaparan Darurat di Wilayah Konflik Ethiopia
Warga di wilayah konflik Ethiopia. ©AFP

Ratusan ribu warga sipil menghadapi “kelaparan tingkat darurat” di dua wilayah yang dilanda konflik kekerasan di Ethiopia utara, seperti disampaikan PBB pada Senin.

Peringatan dari World Food Programme (WFP) PBB ini muncul ketika perang terus meluas dan para pejabat melaporkan jatuhnya korban sipil baru di dua wilayah, Amhara dan Afar.

Ethiopia Utara telah dilanda pertempuran sejak November, ketika Perdana Menteri Abiy Ahmed mengirim pasukan untuk menyingkirkan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), yang kemudian menjadi partai penguasa di wilayah Tigray. PM Abiy mengatakan langkah itu sebagai respons atas serangan TPLF di kamp tentara.

Perang tersebut mencapai babak baru pada Juni ketika pasukan Tigray merebut kembali ibu kota Tigray, Mekele dan sebagian besar tentara Ethiopia ditarik. Sejak saat itu, TPLF terdorong ke timur ke wilayah Afar dan Amhara di selatan.

Direktur tanggap bersama WFP untuk Tigray, Michael Dunford dalam pertanyaaannnya menyampaikan, warga sipil di wilayah-wilayah tersebut “jatuh ke dalam (bencana) kelaparan akibat konflik”. Dia juga mengatakan jumlah orang yang menghadapi “kelaparan tingkat darurat” di wilayah tersebut sebanyak 300.000 orang. Demikian dikutip dari AFP, Selasa (10/8).
Di Tigray sendiri, PBB sebelumnya menyampaikan sekitar 400.000 orang mengalami kelaparan.

Pekan lalu, TPLF merebut Lalibela, kota di Amhara utara yang menjadi lokasi gereja abad 12 yang dipahat dengan batu, yang merupakan situs warisan dunia UNESCO.

Pada Senin, juru bicara pemerintah Amhara, Gizachew Muluneh mengatakan ada pertempuran sengit di daerah Woldiya, persimpangan penting di jalan utara menuju Tigray, selatan menuju ibukota Ethiopia Addis Ababa, timur menuju Djibouti dan barat menuju ibukota Amhara Bahir Dar.

Gizachew mengatakan, pejuang TPLF mengerahkan senjata berat di daerah sipil.

"Jumlah korban sedang diselidiki. Beberapa warga sipil tewas dan beberapa rumah hancur."

TPLF membantah jatuhnya korban sipil dan mengatakan mereka hanya ingin mengamankan jalan-jalan di Amhara utara sehingga dapat mencegah pasukan pemerintah berkumpul kembali.

Terpisah, Kepala UNICEF, Henrietta Fore mengatakan "sangat khawatir dengan laporan pembunuhan lebih dari 200 orang, termasuk lebih dari 100 anak-anak, dalam serangan terhadap keluarga terlantar" di Afar Kamis lalu.

"Pasokan makanan penting juga dilaporkan hancur di daerah yang sudah mengalami tingkat darurat gizi buruk dan kerawanan pangan," kata Fore.

Fore tidak menjelaskan lebih jauh di mana pembunuhan itu terjadi atau siapa yang mungkin bertanggung jawab, dan UNICEF tidak segera menanggapi pertanyaan tersebut pada Senin.

Sebuah akun Twitter pemerintah Ethiopia pada Senin mengatakan para korban "dibunuh oleh kelompok teroris TPLF".

Hal ini dibantah juru bicara TPLF, Getachew Reda di Twitter. Reda mengatakan pernyataan Fore "cukup mengkhawatirkan". Dia juga membantah TPLF bertanggung jawab dan berjanji bekerja sama dengan pihak terkait untuk penyelidikan.

Rekomendasi