Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn menyebut Thailand adalah "tanah kompromi" dalam komentar yang belum pernah terjadi sebelumnya pada Minggu malam, saat raja yang sulit didekati itu mengungkapkan "cinta" untuk semua rakyat Thailand setelah berbulan-bulan demo yang menyerukan reformasi monarki.
Penguasa berusia 68 tahun itu melontarkan komentar tersebut saat berjalan-jalan di antara ribuan orang yang mengenakan kemeja kuning - warna yang identik dengan kalangan bangsawan - yang telah menunggu di dekat Istana Agung sambil memegang potret Raja Vajiralongkorn dan Ratu Suthida.
Didekati seorang jurnalis dari Channel 4 News Inggris dan ditanya tanggapannya soal puluhan ribu orang demonstran anti pemerintah yang menyerukan reformasi monarki, raja mengatakan: "Kami mencintai mereka semua sama."
Ditanya terkait apakah ada ruang untuk kompromi, dia menambahkan: "Thailand adalah tanah kompromi". Demikian dikutip dari Aljazeera, Senin (2/11).
Advertisement
Komentar raja kepada media sangat jarang terjadi karena ketatmya protokol keluarga kerajaan, dan adanya UU ketat penistaan kerajaan.
Vajiralongkorn, yang menghabiskan sebagian besar waktunya di Jerman, juga bergabung di luar istana dengan para anggota kerajaan yang lain termasuk dengan permaisurinya, ketika kerumunan meneriakkan: "Panjang umur, Raja!"
"Saya merasa itu omong doang. Kata kompromi adalah lawan dari apa yang sebenarnya terjadi, seperti pelecehan dan penggunaan pasukan dan penggunaan UU," kata salah seorang demonstran Jutatip Sirikhan (21) kepada Reuters.
Istana belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait unjuk rasa yang awalnya menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, sebelum melanggar tabu di kalangan rakyat Thailand memprotes kekuasaan raja. Demo anti pemerintah terbesar di Thailand menarik puluhan ribu massa.
Belum ada angka resmi perkiraan jumlah demonstran pada Minggu, tapi Reuters memperkirakan jumlahnya lebih dari 10.000.
Advertisement
Pemimpin aksi pendukung kerajaan atau kelompok royalis, Warong Dechgitvigrom, yang mencoba mengerahkan orang untuk menghadapi pengunjuk rasa mengatakan raja memintanya untuk "membantu menyingkap kebenaran".
Pemerintahan Prayuth melarang unjuk rasa bulan lalu dan menangkap sejumlah pemimpin aksi, tapi tindakan darurat dibatalkan sepekan setelah diterapkan ketika lebih banyak orang ikut berunjuk rasa.
Tiga pemimpin aksi dibawa ke rumah sakit selama akhir pekan kemarin setelah polisi mengatakan mereka kembali ditangkap setelah batas penahanan mereka berakhir. Salah satu dari mereka pingsan dalam tahanan polisi yang membuat marah pengunjuk rasa.
Meningkatnya unjuk kekuatan dari kaum royalis - serta retorika online mereka yang semakin keras terhadap aktivis pro-demokrasi - telah meningkatkan kekhawatiran tentang kekerasan di jalanan.