Senator Amerika Serikat, Kamala Harris dipilih Joe Biden sebagai cawapres - dikenal sebagai politikus kulit hitam ternama. Tapi dia juga sangat memegang erat asal usul Indianya.
"Nama saya dieja "Komma-la", seperti tanda baca (koma)," tulisnya dalam buku otobiografinya pada 2018 berjudul, The Truths We Hold.
Senator California, putri dari seorang ibu kelahiran India dan ayah kelahiran Jamaika, kemudian menjelaskan arti namanya.
"Artinya 'bunga teratai', yang merupakan simbol pentingnya budaya India. Teratai tumbuh di bawah air, bunganya mekar di atas permukaan sementara akarnya tertanam kuat di dasar sungai," jelasnya, seperti dikutip dari BBC, Rabu (12/8).
Kamala muda dan adiknya, Maya, tumbuh di sebuah rumah yang kerap diisi dengan musik dari para artis kulit hitam Amerika. Ibunya kerap menyanyikan lagu-lagu rohani Aretha Franklin, dan ayahnya yang menyukai jazz, yang mengajar ekonomi di Universitas Stanford, akan memutar Thelonius Monk dan John Coltrane di piringan hitam.
Shyamala Gopalan dan Donald Harris berpisah saat Kamala berusia lima tahun. Dibesarkan terutama oleh ibu tunggal beragama Hindu, seorang peneliti kanker, dan aktivis hak-hak sipil, Kamala, Maya, dan Shyamala dikenal sebagai "Shyamala dan para gadis".
Ibunya memastikan dua putrinya memperhatikan latar belakang mereka.
"Ibu saya sangat mengerti dia membesarkan dua putri berkulit hitam. Dia tahu tanah air adopsinya akan memandang Maya dan saya sebagai gadis remaja berkulit hitam, dan dia memastikan kami tumbuh menjadi perempuan kulit hitam yang percaya diri," tulisnya.
"Harris tumbuh dengan memegang erat budaya Indianya, tapi dengan bangga menjalani kehidupan sebagai Afrika-Amerika," tulis The Washington Post tahun lalu.
Saat dia mencalonkan diri sebagai anggota Senat pada 2015, majalah The Economist menggambarkannya sebagai "putri peneliti kanker India dan profesor ekonomi Jamaika, dia adalah perempuan pertama, warga Afrika-Amerika pertama dan orang Asia pertama sebagai Jaksa Agung California."
Perempuan 55 tahun itu mengatakan tidak bermasalah dengan identitasnya dan menggambarkan dirinya dengan sederhana sebagai "seorang Amerika".
Dalam sebuah video dengan seorang komedian dan aktris keturunan India-Amerika, Mindy Kaling, keduanya memasak makanan India bersama-sama dan membicarakan latar belakang India selatan mereka.
Kaling bertanya ke Kamala Harris apakah dia besar dengan makanan India selatan. Harris kemudian menyebut sejumlah makanan India yang dimasak di rumah: "Banyak nasi dan yogurt, kari kentang, dal, banyak dal, idli."
Dia juga menceritakan saat dia mengunjungi rumah ibunya di India, kakeknya meminta dibuatkan roti panggang ala Prancis - dibuat dari telur - saat neneknya yang vegetarian keluar rumah (di India, telur dianggap makanan non vegetarian).
Dalam bukunya, dia juga menulis tentang pembuatan nasi biryani India - dan spageti Bolognese - di rumah.
Saat Kamala Harris menikah dengan Douglas Emhoff, seorang pengacara pada 2014, "untuk menjunjung warisan budaya India dan Yahudi (kami)", Kamala mengalungkan karangan bunga di leher suaminya dan suaminya menginjak sebuah gelas.
Advertisement
Citra publik Harris lebih lekat dengan identitasnya sebagai politikus Afrika-Amerika, khususnya baru-baru ini saat pembahasan tertang ras dan gerakan Black Lives Matter kembali ramai diangkat di AS.
Tapi warga India-Amerika menganggapnya sebagai salah satu dari kelompok mereka, pencalonannya membuatnya makin terkenal di antara komunitas India dan Asia Selatan di AS.
Jelas bahwa almarhum ibunya adalah inspirasi terbesar bagi Kamala Harris. Gopalan lahir di Chennai, India Selatan, putri pertama dari empat bersaudara.
Gopalan lulus dari Universitas Delhi pada usia 19 tahun, dan melamar ke program sarjana di Berkeley, "universitas yang tak pernah dia lihat, di negara yang tak pernah dia kunjungi".
Ibunya meninggalkan India pada 1958 untuk meraih gelar doktor di bidang nutrisi dan endrokrinologi, dan kemudian menjadi peneliti kanker payudara.
Dalam bukunya, Kamala menulis ibunya diharapkan kembali ke India setelah selesai kuliah, dan setuju dengan perjodohannya.
"Tapi takdir punya rencana lain," tulisnya.
Gopalan bertemu Donald Harris dan jatuh cinta di Berkeley saat mereka bersama-sama terlibat dalam gerakan hak-hak sipil.
"Pernikahannya - dan keputusannya untuk tinggal di AS - adalah tindakan menentukan nasib sendiri dan cinta," tulisnya.
Gopalan meraih gelar doktornya pada usia 25 tahun pada 1964, tahun yang sama dengan kelahiran Harris.
Advertisement
Kamala Harris menulis ibunya terus bekerja sampai saat melahirkan kedua putrinya - "dalam kasus pertama air ketubannya pecah ketika dia berada di lab; dan yang lainnya saat dia membuat strudel apel".
Kembali ke India, Gopalan dibesarkan dalam rumah tangga "aktivisme politik dan kepemimpinan sipil".
Neneknya tidak pernah sekolah menengah atas, tetapi merupakan pengurus komunitas yang menangani korban KDRT dan mendidik perempuan tentang kontrasepsi. Kakeknya, PV Gopalan, adalah seorang diplomat senior di pemerintah India yang tinggal di Zambia setelah memperoleh kemerdekaan, dan dia membantu mengurus pengungsi.
Dalam bukunya, dia tidak banyak bicara tentang perjalanannya ke India.
Tetapi dia menulis bahwa dia dekat dengan saudara laki-laki dan dua saudara perempuan ibunya, yang dengan mereka Kamala tetap berhubungan melalui panggilan jarak jauh dan surat serta perjalanan berkala. Gopalan meninggal pada tahun 2009, dalam usia 70 tahun.
Aktivis Partai Demokrat AS seperti Shekar Narasimhan mengatakan pencalonan Kamala akan menjadi "seismik" bagi komunitas India-Amerika. "Dia seorang perempuan, dia dua ras, dia akan membantu memenangkan pemilihan untuk Biden, dia menarik bagi berbagai komunitas dan dia benar-benar pintar."
"Mengapa orang India-Amerika tidak bangga padanya? Itu pertanda bahwa kita sudah dewasa."