Senat Rancang UU Baru Untuk Batasi Donald Trump Lancarkan Perang Terhadap Iran

Senat Amerika Serikat mengajukan rancangan UU baru. UU ini bertujuan untuk membatasi kewenangan Presiden Donald Trump melancarkan perang melawan Iran.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Senat Rancang UU Baru Untuk Batasi Donald Trump Lancarkan Perang Terhadap Iran
Donald Trump. ©2019 AFP Photo

Senat Amerika Serikat mengajukan rancangan UU baru. UU ini bertujuan untuk membatasi kewenangan Presiden Donald Trump melancarkan perang melawan Iran.

Resolusi itu mengharuskan Donald Trump untuk menghapus pasukan AS yang terlibat dalam permusuhan terhadap Iran kecuali Kongres menyatakan perang atau membolehkan otorisasi khusus untuk menggunakan kekuatan militer.

Saat pemungutan suara awal, 51 anggota senat mendukung aturan baru tersebut, sementara 45 anggota senat lainnya menolak.

"Sangat penting bagi keamanan negara kami bahwa Senat Amerika Serikat tidak memberikan suara untuk resolusi kekuatan perang Iran. Ini bukan waktunya untuk menunjukkan kelemahan," kata Donald Trump di Twitter, dikutip pada Kamis (13/2).

Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell mengatakan, resolusi itu tak sesuai dengan Undang-Undang Kekuatan Perang karena undang-undang itu dimaksudkan untuk mencegah penyebaran ribuan pasukan ke pertempuran berkelanjutan tanpa otorisasi kongres.

"Kami tidak mengirim pesan kelemahan ketika kami membela aturan hukum," ujar Senator dari Partai Demokrat Tim Kaine.

"Itu adalah pesan yang mengandung kekuatan dan itu terutama berbicara kepada orang-orang di seluruh dunia yang berada di jalan-jalan memprotes ... karena mereka menginginkan supremasi hukum," kata Kaine, seperti dilansir Antara.

Dewan Perwakilan Rakyat yang dipimpin Partai Demokrat meloloskan resolusi yang sama bulan lalu, ketika Demokrat dan beberapa anggota Partai Republik marah atas kegagalan Trump untuk sepenuhnya memberi tahu mereka tentang strateginya menyerang Iran.

Trump bulan lalu memerintahkan serangan pesawat tak berawak yang menewaskan Panglima Pasukan Garda Revolusi Iran, Jenderal Qassim Sulaimani di bandara di Baghdad, tetapi tidak melaporkan kepada Kongres setelah serangan itu.

Reporter: Raden Trimutia Hatta
Sumber: Liputan6

Rekomendasi