Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido mendorong rakyat agar turun ke jalan-jalan mendukung para anggota militer menyingkirkan Presiden Nicolas Maduro. Pria yang menyatakan diri sebagai presiden sementara ini juga menyerukan rakyat merebut kembali kebebasan.
Pesan tersebut disampaikan Guaido pada Selasa (30/4) waktu setempat.
Dalam laporan VOA Indonesia, yang dikutip Rabu (1/5), Guaido memposting sebuah video di akun Twitternya. Video itu berisi pidato di hadapan sekelompok tentara dan politisi oposisi Leopoldo Lopez, yang sedang dikenai tahanan rumah.
Guaido mengatakan militer telah membuat keputusan yang tepat dan akan berada di sisi yang benar dalam sejarah. Tidak lama kemudian, Menteri Informasi Venezuela Jorge Rodriguez mengatakan pemerintah Maduro menghadapi "upaya kudeta" kecil yang dipimpin "para pengkhianat" di tubuh militer.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Vladimir Padrino mengatakan militer "dengan tegas membela" Maduro.
Guaido memimpin Majelis Nasional Venezuela. Dia menggunakan konstitusi untuk mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara pada Januari lalu, setelah menyebut kepemimpinan Maduro tidak sah karena kecurangan dalam Pemilu.
AS Dukung Oposisi Venezuela
Wakil Presiden AS, Mike Pence meminta PBB mengakui Guaido sebagai presiden sah Venezuela pada Rabu (10/4).
"Sudah tiba waktunya bagi PBB untuk mengakui presiden sementara Juan Guaido sebagai presiden Venezuela yang sah dan mendudukkan wakilnya dalam badan ini," kata Pence kepada Dewan Keamanan PBB, mengutip Al Jazeera pada Kamis (11/4).
Dalam kesempatan itu, dia menambahkan pihaknya telah menyusun resolusi mengenai Venezuela. Tidak jelas kapan dan di mana Pence akan memperkenalkan resolusi yang dimaksud kepada DK PBB.
Pence juga mengumumkan, pemerintah Amerika Serikat akan memberikan US$ 60 juta kepada Venezuela sebagai "bantuan kemanusiaan". Pence optimistis "momentumnya ada di pihak pendukung kebebasan".
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia mengatakan AS harus berhenti mencampuri urusan negara lain. Presiden Nicolas Maduro saat ini memang mendapatkan dukungan dari Kuba, Rusia, Turki dan China.
"Kami menyerukan Amerika Serikat untuk sekali lagi mengakui bahwa rakyat Venezuela dan masyarakat lain memiliki hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri," kata Nebenzia.
"Jika Anda ingin membuat Amerika hebat lagi (Make America Great Again - jargon kampanye Donald Trump), kami semua dengan tulus tertarik melihatnya, maka berhenti mencampuri urusan negara lain," imbuhnya.
Krisis Venezuela Bikin 1,1 Juta Anak Menderita
Sekitar 1,1 juta anak-anak di Venezuela menderita akibat terdampak krisis ekonomi dan politik berkepanjangan. Laporan ini merupakan data terbaru yang disampaikan oleh UNICEF, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak.
Dikutip dari laman New Straits Times, Jumat (5/4), UNICEF juga melaporkan bahwa angka ini meningkat dua kali lipat dari sebelumnya. Pada periode sebelumnya, angka anak yang menderita sebanyak 500 ribu orang.
Jumlah anak yang menderita akibat terkena dampak tersebut tidak hanya berada di Venezuela, tetapi juga bagi mereka yang selama ini menjadi pencari suaka ke sejumlah negara Latin dan Karibia.
Badan khusus untuk anak-anak tersebut juga memprediksi bahwa keadaan akan semakin diperparah di masa mendatang, apabila suhu perpolitikan di negara tersebut belum menurun.
UNICEF meminta pemerintah di wilayah tersebut untuk menjunjung tinggi hak-hak anak dan memastikan mereka memiliki akses ke layanan yang lebih penting.
Sebuah laporan internal PBB yang dilihat oleh AFP pekan lalu mengatakan tujuh juta orang atau sekitar 24 persen dari populasi Venezuela membutuhkan bantuan kemanusiaan, kekurangan akses untuk memperoleh makanan dan perawatan medis.
Presiden Nicolas Maduro menyalahkan sanksi AS atas masalah ekonomi Venezuela, tetapi Guaido mengatakan korupsi dan salah urus pemerintah adalah penyebabnya.