Setahun mencairnya hubungan Korea Utara dan Korea Selatan, membawa angin perubahan yang mendekatkan kedua negara. Namun di sekolah-sekolah di Korea Selatan, kondisinya boleh jadi masih belum berubah.
"Saya benar-benar tidak tahu apa-apa," kata siswa 17 tahun bernama Roh Ha-na. "Cuma dua kali setahun sekolah mengajarkan tentang unifikasi dan keamanan nasional dan kehidupan di Korea Utara, tapi itu semua ibarat masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri," kata dia, seperti dilansir laman Reuters, Kamis (22/11).
Tahun ini isu penyatuan dua Korea terhambat oleh kurangnya pengetahuan warga Korsel tentang tetangga mereka di Utara. Pemerintah Korsel kini berusaha mengubah kondisi itu dengan menggiatkan pelajaran tentang Korut dan unifikasi.
Kepala Institut Korea Selatan untuk Pendidikan Unifikasi, Baek Jun-kee, mengatakan metode pengajaran di sekolah selama ini gagal membuat siswa Korsel merasakan pentingnya memahami Korut, penduduknya, dan pemimpin mereka, Kim Jong-un.
"Jika kita tidak menangani isu ini dengan cara yang masuk akal atau menunjukkan dampaknya kepada kehidupan siswa di sekolah menengah atau atas, maka akan sulit untuk menarik perhatian mereka," kata Baek kepada Reuters.
"Setiap pemerintah daerah sudah merencanakan program pertukaran pelajar dua Korea, tapi mereka tidak punya sosok ahli, wawasan, dan jaringan untuk melakukannya," kata Hong Min, peneliti di Institut Korea untuk Unifikasi Nasional.
"Ketika para konglomerat Korsel pergi ke pertemuan tingkat tinggi di Pyongyang September lalu, sebagian besar dari mereka tidak punya sosok ahli Korut untuk memberi gambaran singkat."
Setelah berpisah selama 70 tahun dan secara teknis masih dalam kondisi perang setelah Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, banyak warga Korsel yang memandang ide unifikasi adalah mimpi.
Sejumlah survei memperlihatkan generasi muda Korsel banyak tidak peduli dan apatis dengan tetangga mereka di Utara. Mereka juga memandang orang Korut sebagai biang masalah selain urusan pekerjaan dan sekolah.
Dalam wawancara dengan 17 siswa sekolah menengah atas, terungkap mereka tidak pernah mendengar soal kebijakan pembangunan bersama bagi Korut dalam satu dekade terakhir. Sebagian besar dari mereka tidak tahu soal pertumbuhan sektor swasta yang kini banyak menopang perekonomian Korut.
"Saya tidak pernah mendengar soal Korut di sekolah selain soal sejarah Perang Korea," kata Moon So0in, 17 tahun, siswa di SMA Sunil Girls.
"Teman-teman saya juga kelihatannya kurang tertarik karena selama ini kami sudah terbiasa sebagai negara yang berpisah."
Kondisi ini berkebalikan dengan di Korea Utara. Siswa Korut lebih banyak membahas Korsel di sekolah. Selain menjadi isu propaganda, para pembelot Korut mengatakan mereka diajarkan soal Korsel sedetil mungkin.
"Saya diajarkan soal geografi Korsel dan soal tambang serta ladang apa yang dihasilkan dari setiap wilayah dan bagaimana sejarah di kawasan Korsel itu," kata Park Na-ri, pembelot Korut yang kini mengajar di Seoul.
"Saya terkejut ketika tahu orang Korsel tidak tahu apa-apa tentang Korut," kata dia.