Siswa di Kamerun yang diculik pada Senin (5/11) lalu akhirnya dibebaskan. Ke-79 siswa dan tiga staf dari sekolah Prebyterian tersebut diculik dari desa Nkwen, dekat ibukota, Bamenda.
"Para siswa yang diculik dari sekolah asrama telah dibebaskan. Tetapi kepala sekolah, pengemudi, dan seorang guru masih berada dalam penyanderaan," demikian dikatakan oleh pejabat setempat, dikutip dari BBC, Rabu (7/11).
Hingga saat ini belum diketahui siapa dalang dari penculikan ini. Pemerintah menuding kelompok separatis bersenjata berada di balik penculikan itu. Namun, kelompok tersebut pun menuding pemerintah pelakunya.
Namun, di tengah pemberitaan penculikan itu, muncul sebuah video yang menunjukkan korban. Dalam video tersebut, para siswa dipaksa untuk menyebut diri mereka sebagai 'anak-anak amba'. Para teroris juga mengatakan mereka hanya akan membebaskan para siswa saat tujuan mereka menciptakan negara baru tercapai.
"Kami hanya akan membebaskan kalian setelah perjuangan kami berakhir. Kalian akan bersekolah di sini sekarang," ujar pria dalam video itu yang diidentifikasi sebagai penculik.
Diduga, video tersebut dibuat oleh gerakan separatis Anglophone. Ini merupakan penculikan terbesar yang pernah dilakukan kelompok separatis di Anglophone Kamerun,