Sejumlah media Barat arus utama mulai meragukan kebenaran berita dugaan serangan senjata kimia di Kota Douma, Suriah, yang menyebabkan Amerika Serikat melancarkan serangan rudal ke negara itu Jumat lalu.
Para dokter di rumah sakit Douma mengatakan kepada media Prancis, Inggris, dan Jerman bahwa serangan gas kimia itu tidak pernah ada.
Kantor berita terbesar ketiga di dunia asal Prancis, AFP, dan the Independent, portal berita Inggris menerbitkan laporkan yang mempertanyakan kebenaran soal apakah senjata kimia klorin atau jenis lain pernah terjadi di Kota Douma, Ghouta Timur pada 7 April lalu.
Dilansir dari laman Russia Today, Rabu (18/4), AFP mewawancarai seorang mahasiswa kedokteran bernama Marwan Jabir yang menyaksikan kejadian selepas dugaan serangan gas kimia di kota itu.
"Beberapa korban menderita asma dan radang paru-paru. Mereka mendapat perawatan rutin dan sebagian bahkan dibolehkan pulang," ujar Jabir kepada AFP. "Tidak ada gejala mereka terkena serangan gas kimia. Tapi sejumlah orang tiba-tiba datang ketika kami sedang panik dan mereka langsung mengguyur pasien dengan iar dan sebagian lagi merekam video."
Pengakuan Jabir ini sesuai dengan klaim seorang dokter di Douma yang berbicara kepada jurnalis Inggris Robert Fisk. Meski dokter Assim Rahaibani tidak melihat langsung kejadian di klinik itu, dia mengatakan semua dokter yang bertugas di sana paham apa yang terjadi.
Menurut Rahaibani, serangan udara membuat gumpalan debu masuk ke ruang bawah tanah dan gudang perlindungan tempat merawat pasien.
"Orang-orang berdatangan sambil mengeluh hipoksia dan sesak napas. Lalu seseorang di pintu, orang White Helmets, berteriak 'Gas!' dan yang lain mulai panik. Orang-orang mulai saling mengguyur air. Benar video itu dibuat di sini, asli, tapi yang ada mereka menderita hipoksia, bukan keracunan gas."
Fisk yang menulis di Independent mengatakan warga lokal yang dia wawancarai mengatakan tidak pernah percaya dengan berita serangan gas kimia dan mereka bilang cerita soal kekejaman Presiden Basyar al-Assad dengan senjata kimianya disebarkan oleh kelompok pemberontak bersenjata yang menahan dan menindas warga di Ghouta sebelum kemudian kota itu dikuasai kembali oleh militer Suriah bulan ini.
Sementara itu laporan yang disiarkan di media Jerman RTL mengatakan belum jelas apakah serangan gas kimia itu benar-benar terjadi karena warga setempat yang berbicara ke kamera mengatakan mereka tidak mencium gas kimia sama sekali, tapi ada satu orang yang mengingat ada 'bau aneh' lalu merasa mendingan setelah minum air tapi dia tidak mau memperlihatkan wajahnya ke kamera dan berkukuh ada bau klorin.
"Sabtu, sepekan lalu, kami menangani pasien dengan masalah pernapasan, tapi bukan klorin atau keracunan gas, itu gejalanya berbeda," kata seorang dokter setempat.
Laporan-laporan dari media Prancis dan Inggris ini bertolak belakang dengan pernyataan dari Paris dan London yang mengatakan serangan gas kimia itu terjadi dan Assad bertanggung jawab.