Penyelidik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa Korea Utara telah mengirimkan pasokan ke Pemerintah Suriah yang bisa digunakan untuk membuat senjata kimia. Laporan tersebut diungkap dalam sebuah dokumen rahasia sebanyak 200 halaman.
Laporan itu muncul saat Amerika Serikat dan negara-negara lain menuding Suriah menggunakan senjata kimia terhadap penduduk sipil, termasuk serangan gas klorin di Ghouta Timur beberapa hari terakhir.
Laporan itu juga mengindikasi adanya kecacatan dalam upaya internasional mengisolasi kedua negara sekaligus menjadi bukti baru untuk memperkecil upaya membawa Korut ke meja perundingan.
Dilansir dari laman Telegraph, Rabu (28/2), pasokan yang disediakan Korut antara lain ubin tahan asam, katup, dan termometer. Komponen senjata kimia tersebut dikirim sebanyak 40 kali antara 2012 dan 2017. Penyidik juga melihat secara terperinci teknisi Korut yang bekerja di pabrik senjata kimia dan rudal Suriah.
Adanya laporan tersebut membuka kembali kekhawatiran lama bahwa Korut dapat mendanai program pemusnah massal secara pribadi dengan cara memperdagangkan keahlian teknologinya kepada pihak ketiga. Ini juga memunculkan kecurigaan bahwa Presiden Bashar al-Assad telah dibantu oleh rezim Korut sejak perang sipil Suriah dimulai pada 2011 lalu.
Meski demikian, PBB menolak untuk mengomentari laporan tersebut. Namun, juru bicara PBB menegaskan bahwa setiap negara memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mematuhi sanksi yang diberikan.