Raja Bhumibol mangkat, industri pariwisata Thailand meredup

Raja Bhumibol mangkat, industri pariwisata Thailand meredup. Sepinya tempat wisata di Thailand bisa dilihat dari beberapa tempat di pusat kota. Begitu pula dengan pub dan klub malam. Bahkan, tempat pelacuran paling terkenal di Negeri Gajah Putih kini sudah ditutup sepenuhnya.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Raja Bhumibol mangkat, industri pariwisata Thailand meredup
Warga Thailand borong baju warna hitam. ©REUTERS/Edgar Su

Mantan dewan penasihat Bhumibol, Prem Tinsulanonda, 96 tahun, ditunjuk sebagai pemangku kerajaan sementara sampai pangeran naik tahta secara resmi setahun lagi. Penunjukan ini terjadi di saat industri pariwisata Thailand yang mulai meredup selama masa berkabung ini.Sepinya tempat wisata di Thailand bisa dilihat dari beberapa tempat di pusat kota. Jalan Khao San yang biasanya ramai dipadati turis, kini mulai terlihat lengang. Begitu pula dengan pub dan klub malam. Bahkan, tempat pelacuran paling terkenal di Negeri Gajah Putih kini sudah ditutup sepenuhnya.Salah satu turis menyatakan kekecewaannya dalam sebuah wawancara yang dilansir dari SBS News, Senin (17/10). "Beberapa hari lalu kami masih tenggelam dalam pesta, tapi malam berikutnya kami bahkan tidak bisa melakukan pesta terbuka di pantai. Semua tempat ditutup. Kami bahkan tidak bisa membeli minum di jalan atau di toko swalayan. Benar-benar tak ada musik dan lampu di mana pun,"Pengelola hotel di Bangkok, Jarupa Sunthonpagsit, terpaksa melakukan beberapa pembatalan rencana perjalanan. Termasuk pengembalian uang dari pembatalan tiket konser."Yang saya coba lakukan adalah mengubah rencana untuk membawa mereka ke kuil. Jadi saya coba fokus pada apa yang bisa dilakukan selain pesta-pesta yang seharusnya tidak kita lakukan saat ini," kata Sunthonpagsit. Seorang turis asal Amerika, Carly Pethick menyatakan rencana untuk meninggalkan negara itu lebih awal dari yang dia rencanakan sebelumnya."Kami menerka-nerka haruskah pergi ke tempat terkenal lainnya tapi jadi kembali ragu karena belum ada kepastian apapun. Kami masih tidak yakin. Mungkin kami akan pulang sedikit lebih awal dari yang sudah direncanakan," kata Pethick.Sepasang kekasih lokal yang berencana menikah tahun ini juga terpaksa menunda resepsi mereka. Junlapat dan Kanjira Bunditput memang merasa kecewa tapi tidak bisa mengeluh."Kami telah menyiapkan segalanya tetapi kami membatalkannya di menit terakhir," kata pasangan tersebut."Semua orang memahami situasi ini. Tidak perlu waktu lama untuk membatalkan resepsi kami," kata mereka.Pemerintah berharap masa berkabung ini tidak berdampak jangka panjang pada kondisi ekonomi negara.

Rekomendasi