Separuh kehancuran masih tertinggal di Homs

Warga kini mencoba bangkit, menata hidupnya kembali usai perang.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Separuh kehancuran masih tertinggal di Homs
Kota Homs. ©2016 merdeka.com

Mereka memulainya dari depan Universitas Al Baath di Kota Homs, Suriah. Di pagi cerah Sabtu itu, akhir April lalu, sekitar 400 anak muda, laki-laki dan perempuan, berkumpul di depan kampus itu sambil membawa sepeda masing-masing untuk memulai apa yang mereka sebut pawai damai. Mereka berpakaian olah raga, sebagian memakai kaca mata hitam buat menghindari terangnya mentari pagi."Peserta pawai ini bukan hanya dari Homs tapi juga dari seantero Suriah," kata seorang panitia perempuan bernama Hanin kepada kami, empat wartawan asal Indonesia yang diantar staf KBRI Damaskus mengunjungi Homs.Dari depan kampus mereka akan berpawai menyusuri tempat-tempat yang hancur akibat perang di kota itu.


Beberapa warga lanjut usia berdiri di lantai atas balkon rumah untuk melihat ke bawah, ke jalan tempat anak-anak muda itu berkumpul. Di benak mereka mungkin masih tersisa harapan untuk melanjutkan hidup berkat semangat yang ditunjukkan anak-anak muda itu."Kami melakukan pawai damai supaya kota ini hidup kembali," ujar Hanin.Kehidupan memang harus kembali dimulai di Homs. Warga harus bangkit lagi, menata hidupnya kembali dari puing-puing ingatan tentang perang yang baru usai. Anak-anak muda itu, dengan semangat sederhana, sudah memulainya di Homs.***Saat kami tiba di Homs sore hari sebelumnya, beberapa tempat yang kami lewati terlihat seperti biasa, suasana kota terasa normal. Tak ada bangunan hancur. Toko-toko, restoran, masih ramai dikunjungi orang sampai malam. Di dinding gedung di samping restoran tempat kami makan ada spanduk besar bergambar wajah seorang remaja laki-laki. Sepertinya dia adalah warga Homs. Namanya tertera di situ: Husain Hasan, gelarnya gagah: syahid di medan perang.Seperti di Palmyra, kota yang kami sambangi sebelumnya, kehancuran masih terlihat di sebagian kota Homs yang lain, misalnya di kawasan Khalidiyah, sebelah utara kota.Bangunan-bangunan remuk masih jelas terlihat di daerah ini. Di pingir jalan besar yang kini sepi masih berdiri masjid Khalid bin Walid. Sebagian bangunan masjid ini juga hancur karena perang.

masjid Khalid bin Walid ©2016 Merdeka.com/Pandasurya Wijaya


Di masa Byzantium atau Kekaisaran Roma, Homs jadi pusatnya warga Kristen, banyak warga Nasrani tinggal di kota ini. Pada 636 pasukan Islam dipimpin oleh

panglima perang sahabat nabi, Khalid bin Walid, merebut kota ini. Makam Khalid bin Walid terdapat di dalam masjid itu.Gedung bangunan di kawasan ini terlihat ada yang sebagian sudah miring ambruk. Tampaknya terkena hantaman bom dari serangan udara. Puing-puing berserakan. Sebuah mobil hancur terbalik tinggal rangka. Di depan sebuah rumah yang porak-poranda, tergeletak bekas kotak lemari es tak bertuan. Di distrik Khalidiyah, kesunyian berkelindan dengan kehancuran.

kehancuran kota homs ©2016 Merdeka.com/Pandasurya Wijaya


Berdiri di tengah jalan yang kedua sisinya diapit pemandangan deretan bangunan hancur, tak sampai hati rasanya kalau kami menyebut saat itu kami sedang liputan wisata perang.***Sebelum perang datang, kota yang terletak 180 kilometer sebelah utara Ibu Kota Damaskus ini dihuni 1,5 juta penduduk. Kebanyakan muslim Sunni yang tinggal di sebelah barat, utara dan timur kota. Sekitar 10 persennya adalah warga Nasrani yang banyak tinggal di kawasan Kota Tua, dan 25 persen lagi adalah warga Alawit, suku asal Presiden Basyar al-Assad, di sebelah tenggara kota.Sebagai kota ketiga terbesar di Suriah setelah Damaskus dan Aleppo, Homs pernah dijuluki 'ibu kota revolusi' karena unjuk rasa besar-besaran antipemerintah merebak di kota ini. Mereka mendukung penggulingan Assad dan tak lama kemudian sebagian wilayah kota dikuasai kelompok oposisi. Unjuk rasa itu terjadi hanya dalam hitungan beberapa pekan setelah demo serupa terjadi di Daraa pada pertengahan Maret 2011.Akhir April di tahun itu ribuan warga Homs yang ikut berunjuk rasa ditindak keras oleh pasukan keamanan.Pada Mei 2012, sekitar 15-20 persen wilayah Homs dikuasai kelompok oposisi Pasukan Pembebasan Suriah (FSA). Setahun kemudian pemerintah melancarkan gempuran besar-besaran. Warga sipil yang terjebak jadi korban dan menderita kelaparan karena bahan makanan makin sulit. Baru pada Februari 2014 kesepakatan gencatan senjata tercapai antara kedua pihak. Bulan berikutnya perang tampaknya mulai berakhir di Homs. Kelompok oposisi bersedia menarik mundur pasukannya lewat kesepakatan. Hingga Desember 2015 rombongan terakhir pasukan pemberontak dievakuasi. Mereka diangkut dengan ratusan bus ke wilayah barat di al-Wair. Perang berakhir di Homs, hanya kehancuran masih tertinggal.***

Tidak jauh dari distrik Khalidiyah, di sudut sebuah jalan yang masih sepi, seorang pria lanjut usia menggelar dagangannya di trotoar. Dia menjual kue mirip pastel, dan sederet sepatu bekas. Tampaknya, untuk mencoba bertahan hidup, mereka mencoba menjual apa saja barang yang bisa dijual. Meski hanya sepatu bekas yang kondisinya sudah butut.

Di sebuah kedai kopi di antara lorong-lorong sunyi di daerah itu, seorang bocah laki-laki tampak duduk santai mengobrol dengan temannya sebayanya di seberang meja. Di dinding kedai di samping mereka duduk ada sepenggal tulisan yang menggambarkan sepercik ingatan warga Homs tentang kota tempat mereka tinggal:"Di tempat ini kami menderita, kami melewati masa-masa sulit dan terpaksa mengungsi. Hari ini, kami masih menderita dan menjalani masa sulit, tapi kami masih bertahan di tanah air kami.Kami percaya matahari akan bersinar lagi dan berjanji untuk terus melanjutkan hidup."

Rekomendasi