Tak terima dimakzulkan, Presiden Brasil minta pendukungnya melawan

Selama dinonaktifkan senat, Dilma Rousseff digantikan sang wakil presiden. Polisi bentrok lawan pendukung Dilma

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Tak terima dimakzulkan, Presiden Brasil minta pendukungnya melawan
Presiden Brasil Dilma Rouseff. ©AP

Presiden Brasil Dilma Rousseff yang dinonaktifkan dari tugas oleh Senat, Kamis (12/5) malam mengumumkan siap melawan balik. Dia meminta para pendukungnya merapatkan barisan serta mendukungnya bertahan sebagai presiden.

Rousseff kembali menyebut sikap para senator sebagai upaya kudeta yang inkonstitusional. "Karena itu, saya menyerukan pada seluruh warga Brasil untuk menolak upaya kudeta. Apapun partai anda, lakukan mobilisasi massa mari bersatu," kata presiden perempuan itu di Istana Presiden, seperti dilansir the Guardian.

Senat menggelar sidang selama 20 jam sejak sehari sebelumnya membahas kasus dugaan korupsi Rousseff. Hasilnya, parlemen Brasil akhirnya melakukan pemungutan suara dengan 55 suara setuju Roussef dilengserkan dan sisanya 22 orang tidak setuju.

Rousseff belum otomatis lengser. Dia untuk sementara wajib menjalani sidang hingga enam bulan ke depan. Selama periode itu, Rousseff tak boleh menjalankan tugas sebagai presiden, kendati masih bisa tinggal di rumah dinas dan mendapat pengawalan khusus. Posisinya digantikan oleh Michel Temer, sang wakil presiden.

Sebelum pidato itu diumumkan, polisi di beberapa kota bentrok dengan massa pro-Rousseff yang tidak terima atas keputusan senat. Di beberapa kota lainnya, warga menyalakan kembang api karena bahagia presiden perempuan itu dinonaktifkan.

Penonaktifan Rousseff menjadi solusi sementara kisruh politik di Brasil yang terjadi dua tahun terakhir. Manuver politik Senat juga mengakhiri kekuasaan kelompok kiri di Negeri Samba yang berlangsung 13 tahun belakangan.

Rousseff yang menjabat presiden sejak 2011 popularitasnya terus menurun seiring krisis ekonomi melanda Brasil. Politikus dari Partai Pekerja yang berhaluan sosialis ini semakin tercoreng citranya, karena kasus suap BUMN minyak Petrobras. Rousseff dianggap membiarkan rekan satu partainya memainkan proyek migas.

Perempuan 68 tahun ini sekaligus dituding mengemplang pinjaman dari bank pemerintah. Dana itu dipakai membiayai kampanye pemilu presiden 2014, demi memuluskannya menjabat untuk periode kedua.

Rekomendasi