Rumitnya nyetir di jalanan Damaskus, gara-gara marak bom bunuh diri

Banyak pemeriksaan tentara, pungli, serta dibaginya jalan menjadi dua sisi untuk sipil dan militer

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Rumitnya nyetir di jalanan Damaskus, gara-gara marak bom bunuh diri
Jalanan di Damaskus dijaga ketat tentara. ©2016 Merdeka.com/Pandasurya Wijaya

Perjalanan dari gerbang masuk Damaskus ke tengah kota tidak memakan waktu lama saat saya tiba Senin (25/4). Jalanan cukup lebar, mulus, lurus, sepi. Meski sudah ada pos pemeriksaan sebelumnya di gerbang masuk, sepanjang jalan merdeka.com harus melewati beberapa kali pos pemeriksaan.

Sekitar 20-30 meter mendekati pos, tentara-tentara Suriah berseragam loreng hijau memasang blokade beton dengan formasi zigzag di kanan kiri jalan.

Tujuannya supaya setiap mobil yang lewat akan memperlambat laju kendaraan sekaligus mungkin mencegah kemungkinan terburuk jika ada serangan bom mobil tiba-tiba.

Mereka menyiapkan dua jalur kendaraan: sebelah kiri untuk mobil warga sipil, sebelah kanan untuk mobil militer dan diplomatik. Karena kami memakai mobil plat kedutaan maka mobil kami di jalur kanan.

Untuk warga sipil, pemeriksaan dilakukan cukup ketat dan lama. Semua penumpang harus keluar dan mobil digeledah dari kap mesin sampai bagasi. Di sisi jalan terlihat tiga-empat mobil sedang menepi diperiksa tentara. Barang-barang mereka dikeluarkan, ditaruh di tanah.

"Mereka sudah diperiksa ketat begitu harus bayar pula," kata staf KBRI memberi tahu. Rupanya tentara juga memungut upeti di sini.

Jalanan di Ibu Kota Damaskus Suriah (c) 2016 Merdeka.com/Pandasurya Wijaya

Di jalur mobil diplomatik kami tidak sampai digeledah, hanya ditanya-tanya dan dilihat-lihat saja dan diminta memperlihatkan surat keterangan. Jangan coba-coba mengeluarkan kamera jenis apa pun di sini.

Hanya kira-kira berselang 10-15 menit berkendara dari pos pemeriksaan terakhir, kami sudah memasuki Ibu Kota Damaskus. Mobil-mobil di sini melaju cukup kencang. Waktu menunjukkan pukul 15.09 ketika kami memasuki kota ini. Jalanan tidak terlalu ramai, banyak mobil juga parkir di pinggir jalan. Gedung-gedung tinggi tidak terlalu banyak. Pertokoan dan perkantoran terlihat biasa.

"Nah ini daerah Mazzeh namanya. Mazzeh Timur," kata pejabat KBRI. "Ini semacam kawasan kedutaan di Kuningan, Jakarta. Banyak kantor kedutaan di sini. Di dekat KBRI kita ada kantor kedutaan Malaysia dan Austria. Mereka sudah kosong. Tidak beroperasi sejak 2012."

Sebelum memasuki jalan kecil Mazzeh, tentara terlihat berjaga di posnya. Staf KBRI menyapa tentara itu ketika kami lewat. Kawasan Mazzeh ini jalannya cukup untuk tiga jalur mobil tapi kanan kiri dipenuhi mobil parkir jadi cukup sempit. Kanan-kiri banyak pepohonan di trotoar pejalan kaki jadi cukup teduh.

Kami akhirnya sampai di KBRI Damaskus sekitar pukul 15.20 waktu setempat.

Rekomendasi