Perjanjian nuklir antara enam negara kuat dunia (Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China) dengan Iran sudah disepakati. Akibat perjanjian itu, Teheran dibebaskan dari sanksi ekonomi.Hal ini disambut baik oleh Presiden Iran, Hassan Rouhani. Menurutnya, pencabutan sanksi ini sebagai masa keemasan negaranya."Kesepakatan nuklir merupakan kesempatan yang harus kita ambil untuk membangun negara. Ini dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa, serta menciptakan stabilitas dan keamanan di kawasan," ucap Rouhani, seperti dilansir dari Reuters.Dengan adanya kesepakatan itu, Rouhani yakin akan membawa hal positif dari Iran. Dan benar saja, isolasi ekonomi terhadap Iran langsung dicabut oleh Badan Pengawas Nuklir PBB, Dewan Energi Atom Internasional (IAEA).IAEA kemudian membuka akses untuk Iran pada aset beku mereka sebesar $ 100 miliar (setara Rp 1.391 triliun). Meskipun demikian, ada yang tidak senang dan merasa terancam dengan pencabutan sanksi ekonomi Iran.Arab Saudi dan Israel, merupakan dua negara yang terlihat ketakutan dengan keputusan PBB tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merupakan yang paling vokal
Advertisement
agar sanksi Iran tidak dicabut.Secara terselubung, Netanyahu membuat ancaman untuk menyerang Iran, bahkan sampai berdebat melawan kesepakatan dalam pidato untuk Kongres AS tahun lalu. Dengan lugas, pemipin Zionis itu mengatakan kesepakatan nuklir tidak akan membuat Iran lepas dari senjata nuklir.Netanyahu juga mengatakan pada kabinetnya untuk terus memantau semua pelanggaran internasional yang dilakukan Iran. Dia juga menyerukan untuk memberikan sanksi agresif terhadap tiap pelanggaran Iran.Netanyahu mengatakan Israel tetap berkomitmen untuk mencegah Iran membuat senjata nuklir."Yang jelas, Iran saat ini akan memiliki lebih banyak sumber daya untuk mengalihkan terorisme dari negaranya dan melakukan agresi ke seluruh dunia," ucap Netanyahu seperti dilansir dari the Star.Ketidaksetujuan Israel sudah diketahui oleh Iran. Rouhani pun hanya menganggap lalu apa yang diucapkan Netanyahu."Semua orang bahagia dengan kesepakatan ini, kecuali Israel. Mereka penghasut perang di negara-negara Islam," balas Rouhani terhadap kebencian Israel itu.Sementara, untuk kasus dengan Arab Saudi, sudah jelas di mana letak masalahnya. Kedua negara tidak pernah akur dari dulu. Bermula dari 1979, saat itu penguasa Arab Saudi terperanjat menyaksikan Raja Shah Mohammed Reza Pahlevi digulingkan ulama Muslim Syiah. Atas kekalahan itu, Iran menyatakan Revolusi Islam mereka.Karena 'ngambek' dengan Iran, Saudi kemudian mendukung Irak dalam perang Iran-Irak pada 1980-1988. Warga Iran protes, sebab Saudi membolehkan Irak menggunakan senjata kimia.Awal bulan ini, kedua negara kembali berseteru hebat. Permasalahannya karena seorang ulama Syiah dituduh melakukan tindak terorisme oleh Saudi, dan dieksekusi bersama 47 teroris Sunni lainnya.Akibat dari eksekusi ini, Saudi memutuskan hubungan diplomatik kedua negara karena gedung kedutaan Negeri Petro Dolar di Iran dibakar demonstran.Dicabutnya sanksi ekonomi dan keuangan terhadap negara produsen minyak terbesar ke-7 di dunia ini tentu membuat Arab Saudi tidak senang.Kembalinya Iran di pasar energi global sudah membuat keguncangan sebelum perdagangan minyak Iran dimulai. Pasar saham Saudi jatuh lebih dari lima persen Ahad lalu. Saudi selama ini adalah produsen minyak terbesar di negara-negara OPEC.Adanya kesenjangan diplomatik kedua negara, dilihat sebagai peluang oleh Israel. Negeri Zionis kemudian bersekongkol dengan Saudi untuk menggagalkan upaya Iran mengurangi ketegangan di Timur Tengah."Selama dua setengah tahun terakhir, Arab Saudi menentang diplomasi Iran. Saudi telah melakukan pencegahan atas upaya kami dalam mencapai kesepakatan nuklir," tutur Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.Meskipun ditentang berbagai pihak, Iran tetap berhasil melakukan kesepakatan nuklir. Dan kado bagi AS serta PBB atas dicapainya kesepakatan ini dengan membebaskan lima warga Amerika Serikat yang selama ini mereka tahan.