Jagat politik Australia sedang bergolak. Menteri Pengembangan Infrastruktur Jamie Briggs dan Menteri Alutsista dan Sains Mal Brough mengundurkan diri dari jabatannya pekan ini.
Briggs terlibat skandal mabuk-mabukan saat dinas ke Hong Kong. Sedangkan Brough diselidiki polisi akibat memiliki buku harian politikus rival secara ilegal. Pengunduran diri dua anggota kabinet ini memberi tekanan pada Perdana Menteri Malcolm Turnbull yang belum lama menjabat, selepas melengserkan bosnya Tony Abbott dalam pemilihan internal Partai Liberal.
Dengan adanya gonjang-ganjing di kabinet, sosok Abbott yang sedang mengasingkan diri dari dunia politik Negeri Kanguru, kembali disebut-sebut. Beberapa koleganya di Partai Liberal memintanya turun gunung.
Salah satunya adalah Senator dari Partai Liberal, Eric Abetz. Dia menilai Abbott wajib dimasukan sebagai salah satu menteri di kabinet Turnbull. Abbott dianggap sosok tepat untuk memulihkan kembali persatuan Partai Liberal.
"Saya pikir Tony Abbott punya banyak ide untuk Australia, saya harap dia bisa tetap ada di parlemen atau mendapat tempat utama di kabinet di masa mendatang," ucap Abetz seperti dikutip dari News.com.au Rabu (30/12).
Pernyataan Abetz itu, diamini oleh Senator Partai Nasional, John Williams. "Jika Abbott kembali ke kabinet maka itu adalah cara terbaik menyembuhkan luka di masa lalu," ucap Williams.
Namun permintaan anak buahnya tidak digubris Turnbull. Dia memilih Greg Hunt untuk mengisi posisi yang ditinggalkan Briggs. Sedangkan posisi Menteri Alutsista dan Sains sekarang dijabat Marise Payne.
Briggs meminta maaf karena memicu ketidakstabilan politik Australia. Saat dinas ke Hong Kong, dia mabuk lalu menggoda beberapa staf perempuan. "Perilaku saya belum memenuhi standar saya sebagai seorang menteri," ujarnya saat konferensi pers kemarin.
Turnbull, mantan menteri komunikasi dan informatika, terpilih menjadi PM Australia pada September lalu. Dia merupakan PM ke-29 yang memimpin negera persemakmuran Inggris itu.
Terpilihnya Turnbull dipicu survei pada Agustus 2015 yang menunjukkan masyarakat Australia tidak lagi percaya pada kemampuan Abbott menangani isu ekonomi. Setelah menantang ketua partainya sendiri di parlemen, Turnbull berhasil mendapat 55 suara, sementara Abbott hanya memperoleh 44 dukungan.