Muncul bukti jatuhnya pesawat Rusia di Mesir aksi balas dendam ISIS

Data satelit AS menunjukkan pesawat terbelah dua karena ledakan dari dalam, indikasi terorisme

Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Muncul bukti jatuhnya pesawat Rusia di Mesir aksi balas dendam ISIS
pesawat rusia jatuh di mesir. ©2015 dailymail.co.uk

Penyebab jatuhnya pesawat milik maskapai penerbangan Rusia, Kogalymavia, di Semenanjung Sinai, Mesir, pekan lalu menyimpan berbagai tanda tanya. Spekulasi dari awalnya kerusakan sistem bahan bakar beralih menjadi aksi terorisme. Tepatnya, ada indikasi ledakan dari dalam pesawat.

Penyelidikan sementara menunjukkan pesawat itu meledak di udara, terbelah dua, sampai akhirnya ditemukan jatuh berserakan di Semenanjung Sinai. Beberapa jam setelah insiden itu diberitakan, kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) langsung mengklaim mereka yang membom pesawat itu.

Klaim ini beredar di jejaring sosial para pendukung ISIS, seperti dipantau lembaga Terror Monitor.

"Kecelakaan ini bukan karena masalah teknis. Kami menjatuhkan pesawat Rusia di #Sinai," tulis cuitan Twitter dalam bahasa Arab itu.

Para militan sekaligus menuding penumpang pesawat rute Sharm El-Sheikh menuju St. Petersburg di Rusia itu mayoritas adalah "pasukan salibis."

Walaupun begitu, Rusia membantah klaim ISIS tersebut melalui tim investigasinya yang sudah tiba di Mesir. Lalu, apa sebenarnya penyebabnya?

Para ahli menyebutkan, sebenarnya terlalu dini menyimpulkan kecelakaan yang menewaskan 224 penumpang itu bukan perbuatan ISIS. Menurut mereka, bisa jadi ini salah satu hal ambisius yang dilakukan ISIS.

Berdasarkan hasil investigasi yang ada, mereka menyimpulkan salah satu militan ISIS adalah kru darat di bandara Sharm el-Sheikh. Dia kemudian menanam bom itu di pesawat.

"Mungkin bom di pesawat ditanam oleh kru darat yang merupakan bagian dari ISIS," seperti dikutip dari NBC News.

Setidaknya, kesimpulan ini diambil dari adanya tiga petugas bandara, termasuk kepala keamanan yang dipecat kemarin, Rabu (4/11).

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Inggris, menyetujui laporan intelijen AS, kini menghentikan setiap penerbangan komersial dari dan menuju Semenanjung Sinai. ISIS mengaku bertanggung jawab menjatuhkan Pesawat maskapai Kogalymavia itu. Kendati awalnya dibantah, Pemerintah Inggris menilai bukti-bukti kecelakaan menewaskan 224 penumpang itu dipicu terorisme semakin menguat.

"Kami menyimpulkan ada indikasi kuat kecelakaan (Kogalymavia) akibat bahan peledak di dalam pesawat," kata Menlu Inggris John Hammond kemarin malam.

Sementara itu, pejabat Amerika Serikat mengatakan para penyidik mulai fokus pada ISIS yang memiliki kemungkinan sebagai pelaku pemboman.

Pejabat ini mengatakan, jika memang benar ISIS menanam bom di pesawat itu, maka ini merupakan ancaman besar. Dan hal ini dapat menunjukkan ISIS bisa berbangga diri tentang kemampuan mereka itu.

Diduga kuat ISIS membalas dendam pada Rusia lantaran

telah menyerang basis pertahanan mereka di Suriah.

Penyidik Mesir, seperti dilaporkan Kantor Berita Reuters, turut membenarkan indikasi ledakan bom di pesawat. Airbus mengangkut turis itu jelas meledak di udara tanpa alasan jelas. "Kami akan mencari jejak mesiu di darat, di bekas jatuhnya puing-puing untuk menyelidiki kemungkinan ini," tuturnya.

Langkah maskapai Inggris mengiktu kebijakan perusahaan penerbangan Jerman, Prancis, dan Timur Tengah yang kini memilih tidak melewati Semenanjung Sinai terlebih dulu.

Kotak hitam pesawat yang dioperasikan perusahaan Metrojet itu sudah ditemukan, tapi kondisinya rusak parah. Terlalu banyak suara dari rekaman kokpit. Namun data penerbangan beberapa detik sebelum pesawat jatuh masih bisa dibaca.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Pesawat Kogalymavia sendiri jatuh dalam posisi menjelajah menuju ketinggian di atas 31 ribu kaki, persis 23 menit setelah lepas landas. Sebelum jatuh, pilot sudah meminta bantuan pendaratan darurat.

Nahas, pesawat keburu jatuh dan patah jadi dua bagian.

Jenazah yang ditemukan sudah tidak utuh lagi, namun sudah ada yang berhasil diidentifikasi. Penumpang terdiri dari 214 warga Rusia, dua Ukraina, dan seorang Belarusia, sementara tujuh lainnya awak pesawat itu.

Rekomendasi