Di sela insiden tragis jatuhnya alat berat jenis crane di Masjidil Haram, Makkah, dua hari lalu, warga bergerak cepat membantu korban. Berbekal jejaring sosial dan pesan berantai, ratusan pemuda setempat mendatangi rumah sakit tempat para korban dirawat. Hingga kemarin, masih banyak anak muda memadati lorong-lorong tiga rumah sakit rujuan utama korban untuk mendonasikan darahnya.
Juru bicara Dinas Kesehatan Makkah, Abdul Wahab Shalbi membenarkan gelombang aksi donor darah dari anak muda kota suci itu. "Berkat sumbangan warga yang serentak, kami bisa menyediakan tambahan 2 ribu kantong darah," ujarnya seperti dilansir Stasiun Televisi Al Arabiya, Minggu (13/9).
Kebanyakan pendonor mendatangi Rumah Sakit Ajyad. Di sana terdapat paling banyak jamaah korban crane dengan kondisi kritis, sehingga butuh pasokan darah memadai.
Jumlah jamaah asal Indonesia yang meninggal karena musibah jatuhnya crane sebanyak tujuh orang.
PPIH Daker Mekkah lantas mengumumkan, ada 41 orang asal Indonesia yang terluka masih dalam perawatan intensif di lima RS di Arab Saudi, antara lain RSAS An Noor, Zaheer, dan King Abdullah, serta di BPHI. Hingga Minggu dini hari, tinggal 31 orang lagi yang masih harus menjalani perawatan intensif.
Pemerintah Arab Saudi berjanji menggelar investigasi menyeluruh atas tragedi ini. Sebelumnya, Direktur Jenderal Otoritas Pertahanan Sipil Arab Saudi, Letnan Sulayman Bin-Abdullah al-Amr, mengatakan hampir pasti angin kencang hingga 83 km/jam adalah penyebabnya.
Namun Irfan Al-Alawi, peneliti Islamic Heritage Research Foundation yang berbasis di Mekah, mengatakan Pemerintah Saudi tidak bisa mengabaikan fakta keberadaan 15 crane berukuran besar di sekeliling Masjidil Haram. Alat-alat berat itu, dalam situasi badai ataupun tidak, memiliki risiko yang bisa mengancam keamanan jamaah haji.
"Seluruh kawasan (masjid) seperti area konstruksi. Arab Saudi harus memikirkan ulang strategi keselamatan dan kesehatan lantaran ada 800.000 orang di kawasan masjid saat insiden berlangsung," kata Alawi seperti dilansir BBC.
Pihak pengembang Saudi yang melaksanakan proyek perluasan Masjidil Haram yakni Bin Ladin Group, mengaku crane di masjid suci umat Islam itu sudah dipasang dengan cara profesional dan tidak ada masalah teknis.
Menanggapi jatuhnya crane yang menyebabkan 107 orang tewas, salah satu pejabat Bin Ladin Group membantah bila pihaknya lalai. "Itu adalah takdir Tuhan."