Pemerintah Malaysia menggelar konferensi pers mendadak tadi malam (5/8), menyatakan serpihan pesawat yang muncul di Pulau Reunion, wilayah protektorat Prancis dekat Madagaskar, merupakan bagian dari Malaysian Airlines MH370 yang hilang setahun lebih. Puing flaperon pesawat itu ditemukan bersama koper serta sabun dari Malaysia dan Indonesia.
Pernyataan ini langsung dibacakan Perdana Menteri Najib Razak setelah mendapat laporan tim penguji serpihan di Kota Toulouse, Prancis.
"Tim ahli internasional telah membuat kesimpulan meyakinkan bahwa serpihan pesawat ditemukan di Pulau Reunion berasal dari MH370," kata Najib seperti dilansir Channel News Asia.
MH370 hilang selama 515 hari. Pesawat rute Kuala Lumpur-Beijing itu mendadak tak ketahuan rimbanya setelah terbang satu jam, meski diasumsikan jatuh ke laut oleh sebab belum diketahui.
Tim penyelidik internasional sempat menduga pesawat jatuh di dekat wilayah Indonesia, belakangan direvisi ke arah Barat Australia. Ternyata puing mengalir jauh hingga mendekati Benua Afrika.
Mengetahui informasi tersebut, keluarga korban MH370 mendesak pemerintah Malaysia kembali menggelar pencarian. Jacquita Gonzales yang kehilangan suaminya dalam insiden itu, menilai pihak yang bertanggung jawab harus bisa menemukan jasad para korban.
"Saya tahu, suami saya telah meninggalkan dunia ini. Tetapi, mereka tidak bisa begitu saja langsung membuat kesimpulan hanya dengan satu flaperon," ujarnya.
Dilaporkan BBC, keluarga korban mengaku bingung karena pernyataan Najib berbeda dari temuan Jaksa Penuntut Prancis Serge Mackowiak.
Tim ahli di Toulouse, kata Mackowiak, belum mencapai tahap kesimpulan. Ada indikasi kuat flaperon itu adalah bagian dari Boeing 777 yang dioperasikan Malaysia Airlines. "Dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk membuktikan keterkaitan antara obyek di Pulau Reunion dengan MH370," kata Mackowiak.
KS Narendran yang kehilangan istrinya Chandrika Sharma, mendesak Malaysia berhati-hati mengeluarkan pernyataan. Dia melihat ada keanehan ketika Prancis malah belum yakin, sementara pemerintah Malaysia langsung memberi kesimpulan.
"Saya bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi, sehingga saya tidak tahu siapa yang harus dipercaya," kata Narendran.