Israel gencar melobi AS, bisakah perjanjian nuklir Iran batal?

Kongres Amerika kemarin mulai mengadakan dengar pendapat soal kesepakatan nuklir Iran.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Israel gencar melobi AS, bisakah perjanjian nuklir Iran batal?
Benjamin Netanyahu. ©REUTERS

Pejabat senior Gedung Putih di Washington dua hari lalu mengatakan Amerika Serikat telah menyimpulkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak akan tertarik membahas soal kesepakatan nuklir dengan Iran kecuali Teheran benar-benar menolak kesepakatan itu.

Iran dan enam negara Barat (Jerman, Rusia, China, Inggris, Prancis) dipimpin Amerika Serikat, berhasil menuntaskan perjanjian terkait teknologi nuklir di Kota Wina, Austria, Selasa (14/7). Iran, negara mayoritas Syiah, diizinkan memiliki teknologi nuklir untuk tujuan damai. Sanksi ekonomi yang sejak tiga tahun terakhir menimpa Negeri Para Mullah itu dicabut.

"Semua kerja keras selama beberapa waktu ini terbayar sudah," kata salah satu sumber diplomat Iran yang tidak disebut namanya kepada Kantor Berita Reuters.

Kemarin Kongres Amerika mulai mengadakan dengar pendapat soal kesepakatan nuklir Iran itu dengan memanggil Menteri Luar Negeri John Kerry, Menteri energi Ernest Moniz, dan Menteri Keuangan Jack Lew.

Merujuk naskah perjanjian awal, Iran bersedia mengurangi persediaan fasilitas pengayaan uranium hingga 98 persen. Dengan demikian, negara Syiah kaya minyak itu dipastikan tidak memiliki bahan baku senjata nuklir. Selain itu, pemerintah Iran juga bersedia diperiksa badan internasional Energi Atom (IAEA) saban tahun.

Sebagai ganti atas sikap kooperatif itu, Iran tidak lagi dikenakan sanksi ekonomi, baik oleh AS, Inggris, maupun Jerman. Iran memiliki reaktor nuklir terbesar di Kota Arak, yang menurut laporan PBB sudah mampu mengurai uranium ke level 20 persen, tahap awal membuat bom.

Sebelum dicapai kesepakatan soal nuklir Iran pada pekan lalu, Netanyahu sudah beberapa kali mencoba meminta bantuan Kongres Amerika untuk membatalkan perjanjian soal nuklir Iran.

Ketika melawat ke AS dua bulan lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendesak oposisi Obama agar membatalkan perjanjian ini di masa depan.

"Iran akan mendapat hadiah besar. Ini kesalahan besar sejarah," ujarnya seperti dikutip Reuters, saat berpidato di Ibu Kota Tel Aviv.

Masih dengan nada yang sama, kemarin Netanyahu menyebut kesepakatan itu sebagai "kesalahan sejarah".

"Tanpa kesepakatan masih lebih baik ketimbang kesepakatan buruk ini," kata dia.

Menurut Netanyahu, nuklir Iran tetap akan mengancam Israel di Timur Tengah.

"Dengan memperkuat negara teroris macam Iran, maka kesepakatan ini akan lebih memungkinkan terjadi perang."

Rekomendasi