Bekas pejabat Australia mengungkap bahwa suap menyuap yang terjadi antara otoritas penjaga perbatasan laut Australia dengan awak kapal imigran, rupanya sudah berlangsung selama empat tahun terakhir.
Dilansir dari media lokal Sydney Morning Herald, Selasa (16/6), kejadian ini sudah berlangsung sejak kejayaan Partai Buruh di tangan Kevin Rudd. Salah satu sumber menyebutkan, ini merupakan salah satu taktik Australia menghalau para pencari suaka.
Mantan menteri imigrasi yang mengetahui hal tersebut ikut angkat suara, lantaran dulu di bawah koordinasinya, awak kapal pencari suaka itu disuap sehingga dia mengerti benar kasus ini.
Partai Buruh yang dihubungi terpisah berang mendengar pengakuan sumber itu. Kebijakan suap kapal imigran agar putar balik ke Indonesia terhitung rahasia negara yang tidak boleh dibocorkan.
"Ini melanggar hukum bagi pemerintah maupun oposisi membocorkan keamanan atau informasi intelijen," ujar juru bicara imigrasi bayangan Richard Marles.
Marles mengatakan, masalah ini dibongkar sendiri oleh pemerintah. Mulai dari penyangkalan yang diucapkan oleh Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop, dan Menteri Imigrasi Peter Dutton. Namun, rupanya mereka tak satu suara dengan pernyataan dari Perdana Menteri Australia Tony Abbott.
Para pencari suaka yang sebagian berasal dari Bangladesh itu ditangkap oleh intelijen Australia pada awal bulan ini. Para petugas penjaga perbatasan kemudian memberi uang kepada nahkoda dan awak kapal masing-masing ASD 5 ribu (setara Rp 66,5 juta) agar mau putar balik ke Indonesia.
Menurut Abbott, hal tersebut wajar sebagai kreativitas para petugas untuk menghindari datangnya imigran gelap yang diduga merupakan korban perdagangan manusia.