Kecelakaan sepeda yang dialami Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, pekan lalu tak menghalangi tugasnya merundingkan kebijakan nuklir Iran. Sementara ini, Kerry terpaksa harus kembali ke Boston untuk melakukan operasi pada kakinya yang patah.
Walaupun begitu, para pejabat AS mengatakan Kerry berusaha untuk mengejar jadwal pemulihan cepat agar tetap dapat melakukan perundingan tersebut.
"Sedang mencari untuk mendapatkan kesembuhan dan kembali ke @StateDept!" ujar dia, seperti dilansir dari The Guardian, Selasa (2/6).
Kerry dibawa dengan sebuah pesawat militer AS dan didampingi oleh dokter bedah ortopedinya, Dennis Burke, serta beberapa tenaga medis tambahan.
Dalam akun Twitternya, dia dengan optimis mengatakan akan cepat pulih dan kembali bekerja.
Kerry mengalami kecelakaan ketika bersepeda di perbatasan Prancis-Swiss. Dia sampai harus diterbangkan dengan helikopter ke Ibu Kota Jenewa. Akibat kecelakaan tersebut, pria 71 tahun ini mengalami luka di bagian kaki, yang mengharuskan dia dioperasi.
Di sisi lain, AS-Iran sedang merampungkan teknis kesepakatan yang mengizinkan negara mayoritas Syiah itu memiliki instalasi nuklir.
Merujuk kesepakatan yang dibuat di Kota Lausanne, Swiss, April lalu, Iran bersedia mengurangi persediaan fasilitas pengayaan uranium hingga 98 persen. Dengan demikian, negara Syiah kaya minyak itu dipastikan tidak memiliki bahan baku senjata nuklir. Selain itu, pemerintah Iran juga bersedia diperiksa Badan Internasional Energi Atom (IAEA) saban tahun.
Sebagai ganti atas sikap kooperatif itu, Iran tidak lagi dikenakan sanksi ekonomi, baik oleh AS, Inggris, maupun Jerman. Iran memiliki reaktor nuklir terbesar di Arak, yang menurut laporan PBB sudah mampu mengurai uranium ke level 20 persen, tahap awal membuat bom.
Dengan Iran dipastikan tak bisa membuat senjata berbahan uranium, maka cuma Israel yang secara resmi memiliki hulu ledak nuklir di Timur Tengah.