Biksu Nepal asal Medan ikut cari WNI hilang

“Para pengungsi berbicara dalam Bahasa Tibet. Kebetulan saya bisa berbicara bahasa itu," kata dia.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Biksu Nepal asal Medan ikut cari WNI hilang
Rio Agustian Wijaya. ©2015 Merdeka.com/ardyan

Rio Agustian Wijaya selalu sibuk melayani. Bila sebelumnya pria asal Medan itu aktif berkeliling sebagai biksu di biara-biara Buddha kawasan India, Nepal, dan Tibet, kini dia ikut membantu tim pemerintah Indonesia.Rio, begitu dia biasa disapa, mengaku diajak tim pemerintah mencari 6 warga negara Indonesia (WNI) yang sampai sekarang tidak ada kabar. Kebetulan, di Wihara Swayambhu kawasan Namgel Chowk, Swayambunath, ada 120 pengungsi baru datang dari kawasan Langtang. Daerah itu adalah tempat terakhir tiga pendaki asal Bandung berada."Para pengungsi berbicara dalam Bahasa Tibet. Kebetulan saya bisa berbicara bahasa itu, sehingga saya bisa mencari informasi," ujarnya kepada merdeka.com, di Kathmandu Selasa (5/5).Permintaan agar Rio turut membantu pencarian disampaikan langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Bangaldesh dan Nepal, Iwan Wiryanata Atmadja. Pemerintah berharap ada informasi penting dari para pengungsi tentang keberadaan para WNI di Langtang sebelum gempa 25 April lalu."Kami hari ini akan ke Vihara Swayambhu untuk menanyakan kepada 120 pengungsi dari Langtang, apakah mereka melihat WNI kita yang diduga berada di (Langtang)," Dubes Iwan Winata Atmaja dalam kesempatan terpisah.Rio sudah berada di sekitar Himalaya sejak 2003. Beruntung ketika gempa 7,8 skala richter melanda, dia aman bersama para biksu lainnya di kawasan Kathmandu.Pria yang sempat kuliah akuntansi STMIK Bina Nusantara Jakarta ini mengaku terpanggil mendalami ajaran Buddha aliran Tantrayana. Dia kuras tabungannya belajar agama ke India, walau ditentang orang tua."Namanya orang tua jelas mengamuk lah dengar anaknya enggak menikah, mau jadi biksu. Tapi sampai sekarang kami masih terus berkomunikasi," kata Rio sambil tersenyum.Pria 40 tahun ini mengaku akan berusaha keras mencari informasi apapun tentang WNI yang masih hilang. Dia pun optimis warga Nepal bisa bangkit walau lindu dua pekan lalu merenggut nyawa lebih dari 7 ribu orang."Hidup ini tidak kekal. Orang Nepal memahami itu. Makanya sekarang aktivitas di Nepal sudah mulai normal," tuturnya.

Rekomendasi