Ungkap MH17 belum tentu dihantam roket, Menteri Belanda dikecam

Keluarga korban dan publik marah, karena baru tahu ada satu penumpang ditemukan tewas memakai masker oksigen.

Ardyan Mohamad
Oleh Ardyan Mohamad - Reporter
Ungkap MH17 belum tentu dihantam roket, Menteri Belanda dikecam
Tim Pakar menyelidiki lokasi jatuhnya MH17. ©REUTERS/Sergei Karpukhin

Menteri Luar Negeri Belanda Frans Timmermans mengungkap fakta mengejutkan, bahwa penumpang pesawat nahas Malaysia Airlines MH17 bisa jadi bukan ditembak jatuh gerilyawan separatis Ukraina. Pernyataan itu dikecam keluarga korban, karena selama ini tidak pernah diberitahukan secara terbuka.Veery Mewa, pengacara mewakili beberapa keluarga korban asal Belanda, menilai pernyataan Timmermans tidak etis. "Keluarga terkejut saat mendengar pernyataan itu. Mereka pun bertanya-tanya, apa lagi temuan kecelakaan itu yang belum disampaikan pemerintah," ujarnya seperti dilansir surat kabar the New York Times, Jumat (10/10).Pengguna Twitter dan Facebook di Negeri Kincir Angin turut mengecam pernyataan teledor sang menteri. Mereka menganggap pemerintah tak bersikap terbuka, dan malah membuat kehebohan tidak perlu.Timmermans menyampaikan data kontroversial itu pada bincang-bincang televisi dua hari lalu. Dia mengatakan, bahwa salah satu jenazah penumpang pesawat yang jatuh pada 17 Juli 2014 itu ditemukan memakai masker oksigen. Dengan demikian, sudah ada pemberitahuan dari awak kabin, bahwa pesawat itu akan jatuh.Insiden tragis itu menewaskan 298 orang, mencakup seluruh penumpang termasuk awak pesawat. Jenazah yang memakai masker itu kemungkinan berkebangsaan Australia, tapi tim forensik menolak berkomentar. Hasil lengkap investigasi dijadwalkan selesai Mei 2015.Otoritas Penerbangan Belanda memimpin investigasi karena mayoritas korban warga negara Negeri Tulip itu. Tim bertugas mencari tahu apa penyebab pesawat maskapai Malaysia itu bisa jatuh. Dari temuan awal, burung besi itu meledak di udara karena 'energi bertekanan tinggi'.Dari kesimpulan sementara itu, publik langsung menyalahkan separatis Ukraina. Pesawat dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur ini melewati wilayah konflik antara pemerintah Ukraina dengan kelompok bersenjata pro-Rusia. Publik mayoritas menuding para milisi bersenjata itu bersalah, karena salah menembak pesawat yang dikira milik militer Ukraina.

Rekomendasi