Hanya ada 16 peti mati untuk mengangkut sekitar 40 mayat korban jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 di perbatasan Ukraina-Rusia. Ke-40 korban itu merupakan kloter pertama penerbangan ke Belanda untuk identifikasi.
Sungguh sulit mengevakuasi para korban MH17. Segala hal harus dikompromikan dengan banyak pihak, terutama sekali oleh separatis pro-Rusia yang menguasai wilayah tempat jatuhnya pesawat. Kesulitan ini membuat sedih terutama keluarga korban.
Betapa tidak, mayat kerabatnya harus terombang-ambing dan hari ini genap enam hari namun persoalan evakuasi mayat korban belum sepenuhnya selesai. Awal para penyelidik mengatakan telah menjumpai 282 mayat dari total 298 korban, termasuk 16 jenazah tak lengkap anggota badannya. Namun jumlah itu menyusut, hanya sekitar 200 mayat saja yang ditemukan, demikian dilansir surat kabar the Washington Post (23/7). Belum diketahui alasan penyusutan ini.
Saat memindahkan dari lokasi pun tidak semudah seperti dibayangkan. Mayat-mayat itu menggunakan kereta ke Kota Kharkiv dengan bandar udara terdekat sesudahnya diterbangkan lagi ke Ibu Kota Amsterdam. Mereka menggunakan pesawat Hercules C-130.
Di bandar udara militer Kota Eindhoven, Belanda pesawat disambut dengan upacara dan dihadiri raja serta ratu Negeri Kincir Angin itu. Paling banyak korban memang warga negara ini meski belum sudah berapa mayat korban dievakuasi namun lebih dari seratus kerabat mendatangi upacara sambil terisak.
Mayat-mayat masih teronggok di Kharkiv dijaga ketat oleh militer Ukraina, organisasi keamanan internasional, organisasi keamanan Uni Eropa, serta beberapa ahli forensik dari beberapa negara. "Hari ini perjalanan dimulai namun masih banyak lagi tubuh harus dievakuasi. Di lokasi kejadian juga harus kembali diadakan penyelidikan," ujar Hans Docter, duta besar Belanda untuk Ukraina.
Namun nampaknya keinginan Docter tak bisa terwujud. Kemarin perang pecah lagi antara separatis pro-Rusia dengan militer Ukraina. Dua pesawat jet tempur Sukhoi Su-25 milik Ibu Kota Kiev ditembak jatuh oleh mereka yang memproklamirkan diri sebagai warga Republik Rakyat Donetsk.