Pihak berwenang Mesir kemarin menyita dua gerai ritel dimiliki pemimpin Ikhwanul Muslimin, gerakan telah menghadapi tindakan keras tanpa henti sejak penggulingan mantan Presiden Muhammad Mursi dari kelompok itu pada Juli tahun lalu.
Dua usaha ditargetkan itu adalah pasar swalayan Seoudi dan toko serba ada Zad, yang masing-masing dimiliki oleh Abdel Rahman Seoudi dan Khairat al-Shater, keduanya merupakan pemimpin Ikhwanul Muslimin, gerakan kini masuk daftar hitam di Mesir, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Ahad (15/6).
"Pasukan keamanan menerapkan hukum," kata kepala polisi Kairo, Brigadir Jenderal Ali al-Demerdash, dalam kaitannya dengan tindakan itu.
"Sebuah komite dibentuk sesuai dengan keputusan pengadilan memutuskan untuk menyita toko serba ada Zad, dimiliki oleh Khairat al-Shater, dan pasar swalayan Seoudi, dimiliki oleh Abdel Rahman Seoudi, sebab keduanya membiayai Ikhwanul Muslimin," jelas dia kepada wartawan.
Sebuah pengadilan pada September tahun lalu melarang Ikhwanul Muslimin dari menjalankan operasi dan memerintahkan agar asetnya disita. Pengadilan juga melarang semua lembaga yang menjadi cabang dari atau milik gerakan Islam itu.
Shater, tokoh nomor dua Ikhwanul Muslimin yang memimpin urusan keuangan gerakan itu, berada di balik jeruji besi dan diadili karena berbagai tuduhan.
Dia ditangkap bersama dengan pemimpin spiritual Ikhwanul Muslimin Muhammad Badii, setelah penggulingan Mursi pada bulan Juli 2013 lalu.
Seoudi adalah pengusaha kaya tapi sedikit yang diketahui tentang perannya dalam Ikhwanul Muslimin.
Dua jaringan pasar swalayan menengah itu telah beroperasi di Ibu Kota Kairo dengan menjual makanan dan minuman.
Puluhan polisi bertopeng terlihat menghentikan pelanggan memasuki pasar swalayan Seoudi di pusat Kota Kairo kemarin.
"Mereka datang dan memerintahkan kami (karyawan) semuanya untuk keluar. Iya usaha ini dimiliki oleh anggota Ikhwanul Muslimin, tapi kami menjual makanan dan minuman, bukan politik," kata seorang manajer toko.
Ali al-Demerdash mengatakan dua gerai ritel itu akan diserahkan kepada pemerintah setelah semua formalitas hukumnya diselesaikan.
Ikhwanul Muslimin, yang berhasil meraih kemenangan di pemilu sejak jatuhnya orang kuat Husni Mubarak hingga pemilihan Mursi pada Juni 2012, telah masuk dalam daftar hitam pada Desember tahun lalu dan dinyatakan sebagai kelompok teroris oleh pemerintah dukungan militer.
Sejak penggulingan Mursi, Ikhwanul Muslimin telah menghadapi tindakan keras polisi yang brutal, di mana lebih dari 1.400 pendukungnya tewas dalam bentrokan jalanan dan pemimpin tertinggi mereka, termasuk Mursi, telah diadili.
Mursi digulingkan oleh kepala militer saat itu Abdul Fattah al-Sisi menyusul protes massa terhadap pemerintahannya baru berumur satu tahun. Bulan lalu Al-Sisi terpilih sebagai presiden Negeri Piramida itu dengan kemenangan telak.
Segera setelah kejatuhan Mursi, pihak berwenang menutup beberapa stasiun televisi dan surat kabar dijalankan Ikhwanul Muslimin.