Makan nasi menelan bubur

Demikian hasil dari pemilihan umum mesir yang penuh lelucon.

Ardini Maharani
Oleh Ardini Maharani - Reporter
Makan nasi menelan bubur
Mantan panglima militer Mesir Abdul Fattah al-Sisi usai melakukan pemungutan suara di Kairo pada 26 . alarabiya.net

Meskipun penuh dengan pertanyaan, kecurangan, keprihatinan, Mesir tetap melaju mengadakan pemungutan suara demi menentukan pemimpin mereka. Hasilnya bisa ditebak, mantan panglima militer dan menteri pertahanan Abdul Fattah al-Sisi bakal memimpin Negeri Piramida itu untuk lima tahun ke depan.Banyak pihak mengatakan pemilihan umum (pemilu) Mesir kali ini hanya lelucon politik. Di tengah popularitas tinggi Sisi namun lawan dalam kertas suaranya hanya Hamdeen Sabbahi. Politikus sayap kiri yang kurang terdengar, seperti dilaporkan stasiun televisi Al Arabiya (3/6).Kehadiran Sabbahi di pemilu itu hanya sebagai polesan agar Mesir terlihat menjunjung tinggi demokrasi, demikian ungkapan sebagian pengamat politik. Bahkan pengadilan tak menggubris banding Sabbahi atas kecurangan ditemukan tim suksesnya semasa kampanye pemilu."Pengadilan menolak banding Sabbahi sebab Sisi menang telak," ujar salah satu sumber pengadilan.Kenyataan ini jelas mengeryitkan dahi. Bagaimana tidak, segala cara dilakukan asal Sisi menjadi presiden. Bila memang pemilu ini bukan mainan, seharusnya pengadilan Mesir memberikan kesempatan Sabbahi dan mesin kampanyenya membeberkan sejumlah fakta kecurangan dan pelanggaran pesta demokrasi itu.Pelbagai cara menjadikan Sisi pemimpin juga terletak pada kebijakan mendadak komite pemilu yang memberikan tambahan hari bagi warga yang ingin mencoblos. Alih-alih meluaskan kesempatan penduduk menggunakan hak suara, justru tambahan hari ini menjadi kontroversi. Sabbahi dan timnya geram dan menganggap pemilihan ini kehilangan kredibilitasnya.Sutradara tersohor asal Mesir, Muhammad Ali Hagar, juga dikenal anti-Sisi menyebutkan tambahan hari itu sebagai bukti apa pun dilakukan pihak Sisi agar bisa berkuasa. "Mereka (Sisi) mungkin tidak mendapatkan cukup suara hingga pemungutannya diperpanjang sehari lagi," ujar Hagar.Dalam hal ini independensi Komisi Pemilihan Umum Mesir dipertanyakan. Bahkan dari total warga punya hak pilih hanya 37 persen menggunakannya. Ini berbeda saat pemilihan presiden dua tahun lalu yang memenangkan Mursi. Warga menggunakan hak pilihnya sebanyak 52 persen.Apapun kekecewaan, nasi yang sudah jadi bubur akhirnya terpaksa ditelan dengan sebuah harapan, semoga kekuasaan Sisi tak berubah jadi kesewenangan.

Rekomendasi