Hamdeen Sabahi akui kekalahan dalam pemilu Mesir

"Saya menerima kekalahan dan menghormati pilihan rakyat dalam pemilihan presiden berlangsung tiga hari," kata Sabahi.

Vincent Asido Panggabean
Hamdeen Sabahi akui kekalahan dalam pemilu Mesir
Hamdeen Sabahi. alarabiya.net

Kandidat dari sayap kiri Hamdeen Sabahi mengakui kekalahannya dalam pemilihan presiden Mesir kemarin, setelah hasil awal memberikan kemenangan bagi mantan panglima militer Abdul Fattah al-Sisi yang meraih lebih dari 93 persen suara.

"Saya menerima kekalahan dan menghormati pilihan rakyat dalam pemilihan presiden berlangsung tiga hari yang berakhir pada Rabu," kata Sabahi saat menggelar jumpa pers di Ibu Kota Kairo, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Kamis (29/5).

"Angka yang menunjukkan jumlah pemilih resmi merupakan penghinaan terhadap Mesir," lanjut dia.

Sabahi bersumpah untuk melanjutkan perang melawan tirani dan korupsi, serta berjanji untuk tidak berdamai dengan terorisme, yang mengacu pada Ikhwanul Muslimin, yang telah dilarang oleh pemerintah Mesir dan dicap sebagai kelompok teroris.

Sumber pengadilan kemarin mengatakan bahwa Sisi memenangkan 93,3 persen suara dari semua suara yang telah dihitung. Sementara Sabahi meraih 3 persen suara dan 3,7 persen suara dinyatakan batal, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Semua hasil yang diumumkan oleh tim kampanye atau hakim yang mengawasi tempat pemungutan suara (TPS) masih dianggap tidak resmi dan harus diverifikasi serta diumumkan oleh Komisi Pemilihan Presiden.

Presiden sementara Mesir Adli Mansur mengatakan jumlah pemilih telah mencapai 46 persen, seperti dilaporkan Associated Press.

Mansur menyatakan pemungutan suara menunjukkan konsensus yang luas untuk peta jalan yang diumumkan setelah penggulingan mantan Presiden Muhammad Mursi dari Ikhwanul Muslimin pada Juli tahun lalu oleh militer Mesir.

Namun, pemilih yang lebih rendah dari perkiraan telah menimbulkan pertanyaan tentang kredibilitas Sisi, yang diidolakan oleh para pendukungnya sebagai pahlawan yang dapat memberikan stabilitas di Negeri Sungai Nil itu.

Para pengamat mengatakan kurangnya antusiasme dalam jajak pendapat sebagian karena sikap apatis bahkan di kalangan pendukung Sisi sendiri, yang mengetahui bahwa dia sudah dipastikan menang.

Lainnya mengatakan rendahnya pemilih menunjukkan ketidakpuasan terhadap Sisi, bukan hanya di antara pesaingnya dari kalangan Islamis, tetapi juga di antara bagian yang lebih luas dari masyarakat yang percaya bahwa dia tidak memiliki rencana konkret atas kesengsaraan warga Mesir dan ketakutan dirinya akan mengembalikan negara ke cara otokratis seperti dilakukan di era Husni Mubarak.

Rekomendasi