Tahanan mogok makan di penjara Guantanamo, Kuba, semakin bertambah. Ini akibat dari semua kebohongan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama berjanji menutup tempat itu.Janji pernah diucapkan lima tahun lalu nyatanya hingga saat ini belum ada bukti. Bahkan perlakuan militer di penjara itu semakin menjadi dan melanggar hak asasi, demikian lansiran stasiun televisi CNN (18/4). Seorang lelaki yang ayah dan kakeknya menjadi tentara untuk militer Prancis bernama Nabil Hadjarab pun tidak punya keistimewaan. Bahkan Ibu Kota Paris tutup mata. "Saya meminta Prancis dan Amerika ampunan untuk keponakan saya," ujar paman Nabil, Ahmad Hadjarab. Padahal Nabil sudah dinyatakan bebas pada 2007 hingga kini dia masih di neraka itu. Nabil dituding jadi terorisme namun tidak terbukti.Nabil jadi salah satu dari 12 tahanan makan cairan lewat infus melalui hidungnya. Proses ini sangat menyakitkan. Para tahanan banyak hilang berat badan dan selang kecil itu dipaksa masuk hingga kerongkongan. "Itu penyiksaan," ujar Asosiasi Medis Internasional. Satu lagi tahanan salah tangkap yakni Yunus Chekkuri, warga Jerman itu kini bergabung untuk mogok makan meski dia mengaku tidak ingin mati di Guantanamo namun langkah ini jadi lebih baik ketimbang menahan penderitaan fisik dan mental berkepanjangan. Janji Obama pernah terucap menjadi lelucon sarkas dan menyakitkan. Lebih dari 50 persen tahanan seharusnya sudah bebas justru pagar dan tembok penjara semakin meninggi. Eropa juga mengatakan mereka telah bertoleransi lama pada Amerika soal Guantanamo dan menginginkan penutupannya segera terwujud agar orang-orang seperti Nabil dan Yunus dapat berkumpul dengan keluarga mereka lagi.
Status bebas dalam jeruji besi
Banyak tahanan ternyata terbukti tidak bersalah namun mereka masih mendekam di Guantanamo.
Advertisement
Rekomendasi