Protes mogok makan pernah terjadi di penjara Israel kini merebak di Guantanamo, Kuba. Sebanyak 86 tahanan menahan makan dan minum, beberapa diantaranya bahkan kritis.Latar belakang mereka melakukan itu seperti dilansir stasiun televisi Aljazeera (23/4) yakni keingkaran Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama untuk menutup tempat itu. Banyak kasus pelanggaran hak asasi dilakukan tentara Negara Adidaya di penjara ini. Sebagian besar foto kekejian mereka dibalik tembok penjara tersebar di Internet. Namun tak satu pun bergeming.Obama telah gagal menepati janjinya saat pemilihan 2008 mengatakan dia bakal menutup penjara Guantanamo. Apa lacur penjara itu tetap beroperasi hingga kini dan dunia juga tidak lagi menaruh perhatian lantaran banyak kejadian di belahan bumi lain jadi sorotan. Pernyataan itu menjadikan nama Amerika bersih.Pada kenyataannya fakta berbicara lain. Korban mogok makan semakin bertambah banyak, termasuk mereka yang tidak terdeteksi. Lelaki Inggris Shakir Amir tinggal di Ibu Kota London dengan istri dan empat anaknya menjadi tahanan Guantanamo ikut dalam aksi itu dan sudah kehilangan berat badan 30 kilogram.Amir menjadi korban salah tangkap atas tuduhan terorisme di Britania. Padahal pemerintah Inggris sudah membersihkan namanya dan menyerukan Amerika sebanyak dua kali agar Amir dibebaskan. Namun dia masih di neraka itu."Mereka tutup mata, hati, pendengaran. Klien saya sudah tidak mampu lagi membaca. Dia pusing, dan pingsan," ujar pengacara Amir Clive Smith. Dia menambahkan kondisi Amir memburuk. Saat hendak dirawat Amir menolak dan mengatakan, "Bawa saja ke anak-anak saya. Saya rindu memeluk mereka".Rintihan Amir harus berakhir diserap tembok penjara yang dingin. Amerika tidak lagi mendengar lantaran sibuk menutupi aib mereka yang sedikit demi sedikit terkuak di Bom Boston.
Puasa di neraka
Tahanan penjara Guantanamo melakukan mogok makan agar Amerika Serikat memenuhi janjinya.
Advertisement
Rekomendasi