Jurnalis cantik ini jadi korban tewas keganasan "Joker"

Jessica tertembak di kaki dan kepala.

Aryo Putranto Saptohutomo
Jurnalis cantik ini jadi korban tewas keganasan "Joker"
Jessica Ghawi, pembawa acara olahraga sebuah stasiun televisi di Amerika turut menjadi korban tewas peristiwa penembakan di Bioskop Century, Wilayah Aurora, Denver, Negara Bagian Colorado, Jumat lalu. (www.worldnewsreport.biz)

Jessica Ghawi, seorang jurnalis perempuan turut menjadi korban tewas insiden penembakan di dalam Bioskop Century, Wilayah Aurora, Ibu Kota Denver, Negara Bagian Colorado, Amerika Serikat.

Stasiun televisi Al Arabiya melaporkan, Ahad (22/7), melaporkan Jessica adalah pembawa acara olahraga di sebuah stasiun televisi di Amerika. Perempuan berumur 26 tahun itu adalah berdarah Yordania-Amerika. Dia baru saja pindah ke Denver dari Texas. 

Bulan lalu Ghawi selamat dari insiden penembakan di pusat perbelanjaan Eaton Centre, Kota Toronto, Kanada. Dia pergi selang lima menit sebelum pelaku menembakkan senapannya secara membabi-buta kepada para pengunjung. Alhasil dua orang tewas dalam insiden itu. Dia menuliskan pengalamannya lolos dari peristiwa maut sebagai penyadaran kematian bisa terjadi kapanpun.

Ghawi mengaku sangat antusias bisa menyaksikan penayangan perdana film terbaru Batman : The Dark Knight Rises Jumat dini hari waktu setempat. Meski begitu, dia sempat menuliskan perasaan kesal dalam akun Twitternya lantaran film tidak kunjung dimulai hingga 20 menit. Dia juga menyayangkan tidak menyaksikan film terbaru itu bersama dengan sobat karibnya. Saudara Jessica, Jordan Ghawi, mengatakan dia dan kakak perempuannya mengambil tempat duduk tepat di barisan tengah bioskop. 

Saat Holmes mulai menembak, dia dan kakaknya langsung tiarap. Jessica pun meminta agar dia menghubungi nomor darurat 911. Sesaat setelah itu dia mendengar kakaknya berteriak lantaran kakinya tertembus peluru. Dia pun langsung berusaha menekan luka kakaknya itu buat menghentikan pendarahan. Saat sedang menutup luka tiba-tiba kakaknya langsung terdiam. Dia lalu melihat ke arah wajah kakaknya dan mendapati kepala jurnalis itu sudah bersimbah darah. Jessica pun tewas di tempat.

Aksi brutal Holmes menewaskan 12 orang dan melukai 59 lainnya. Kebanyakan korban luka parah dan kritis, Jumat (20/7). Ratusan polisi dikerahkan untuk menghentikan peristiwa berdarah itu. Tercatat tiga warga Indonesia turut menjadi korban penembakan itu.

Selama ini Holmes dikenal sebagai pribadi cerdas dan santun. Menurut salah satu tetangganya, pemuda itu memang pendiam dan tidak pernah terlibat tindakan kriminal. Dia hanya punya satu catatan pelanggaran hukum, yakni ditilang lantaran ngebut di jalanan Oktober tahun lalu.

Holmes berasal dari keluarga kelas menengah yang cukup dikenal karena aktif di kegiatan amal. Ayahnya bekerja di perusahaan perangkat lunak dan ibunya berprofesi sebagai perawat.

Dia saat ini tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana ilmu syaraf di Universitas Colorado. Sebelum kuliah, tersangka aktif bermain sepakbola dan seorang pelari lintas alam semasa sekolah menengah.

Keluarga Holmes hingga saat ini menolak wawancara media dan mengaku terpukul anak mereka menjadi pelaku penembakan massal terparah di Amerika dalam lima tahun terakhir itu. Pemuda itu rencananya bakal diadili besok pukul 09.30 waktu setempat.

Rekomendasi