Para pendetektor metal menemukan 'uang iblis' di situs arkeologi awal abad pertengahan di Belanda timur. Situs ini diduga tempat ritual para pengikut aliran sesat. Para penganut aliran sesat ini mungkin adalah orang-orang pertama di wilayah tersebut yang memeluk agama baru.
Setelah sekelompok penggemar detektor logam menemukan banyak koin kuno di sebuah ladang di Belanda timur, para arkeolog segera melakukan perjalanan ke daerah tersebut untuk mulai bekerja. Selama dua tahun berikutnya, sebuah tim yang dipimpin arkeolog Badan Warisan Budaya Belanda, Jan-Willem de Kort menggali bagian dari sebuah kompleks yang kemudian mereka beri nama berdasarkan dusun di dekatnya, Hezengin. Hasil penelitian mereka, yang diterbitkan dalam jurnal Medieval Archaeology, mengungkapkan masyarakat pra-Kristen berada di ambang pergeseran budaya yang berpotensi menimbulkan gempa.
“Penelitian ini juga lahir karena kebutuhan, karena situs tersebut terancam oleh perkembangan alam,” kata de Kort dalam pernyataannya pada Selasa, dikutip dari laman Popular Science, Kamis (6/2).
Ketika melakukan penggalian, para arkeolog menemukan sebuah lingkaran besar yang terdiri dari 17 lubang tiang kayu yang mengelilingi “bangunan yang bentuknya tidak biasa” dan kemungkinan Herrenof—rumah seorang raja kaya setempat. Para arkeolog mengidentifikasi tiga situs spesifik di dalam Hezingen berdasarkan tempat mereka menemukan berbagai artefak yang kemungkinan besar ditinggalkan sebagai persembahan kepada dewa.
Advertisement
Artefak persembahan tersebut terdiri dari perhiasan emas dan perak, serta koin emas kecil yang dikenal sebagai tremmisses. Penyelidikan lebih lanjut terhadap lokasi lubang pos juga menunjukkan lokasi tersebut secara cermat disesuaikan dengan ekuinoks musim semi dan musim gugur—yang berarti bahwa Hezingen kemungkinan besar berfungsi sebagai lokasi ritual pertanian musiman dan upacara keagamaan.
“Empat baris tiang itu (sejajar) persis timur-barat. Karena letaknya yang tinggi, matahari terbit di sini pada titik balik musim semi tepatnya di sebelah timur,” jelas de Kort.
Nama dewa atau dewi yang disembah para pengikut sekte ini tidak diketahui. Namun teks-teks misionaris abad pertengahan mengisyaratkan siapa mereka sebenarnya.
“Para dewa yang mungkin disembah di Hezingen dapat dipelajari dari janji pembaptisan Saxon, yang diturunkan dalam kodeks abad ke-9,” jelas de Kort dan rekan penulisnya dalam makalah mereka.
”Sumpah ini menyebutkan para dewa UUôden (Wodan), Thunær (Donar) dan Saxnōte (Saxnot), yang harus ditinggalkan oleh pembaca janji tersebut.”
Para misionaris menyebut persembahan emas dan perak ini sebagai diobolgeldæ, atau “uang iblis.”