Para Pemimpin Dunia Sampai Pelaku Bisnis Bakal Berkumpul di Kota Paling Miskin di Brasil, Ini Tujuannya

Para pemimpin dunia, diplomat, imuwan, aktivis dan pelaku bisnis akan berkumpul pada bulan November nanti.

Teddy Tri Setio Berty
Oleh Teddy Tri Setio Berty - Reporter
Para Pemimpin Dunia Sampai Pelaku Bisnis Bakal Berkumpul di Kota Paling Miskin di Brasil, Ini Tujuannya
Brasil akan menjadi tuan rumah konferensi iklim PBB COP30 pada November 2025 di kota Belem, Amazon, (Dok. AFP). (© 2025 Liputan6.com)

Ketika para pemimpin dunia, diplomat, ilmuwan, aktivis, dan pelaku bisnis bersiap menuju Brasil pada bulan November mendatang untuk menghadiri pertemuan iklim tahunan PBB, mereka akan dihadapkan pada kenyataan yang ada di dunia: kemiskinan, ketidakadilan, serta deforestasi yang menghampar di sepanjang kawasan Amazon. Pertemuan COP30 akan berlangsung di Belem, sebuah kota yang memiliki infrastruktur terbatas dan tingkat kemiskinan yang tinggi, bukan di lokasi pariwisata yang mewah seperti Bali, Paris, atau Dubai.

Pemilihan lokasi ini memiliki alasan yang kuat. Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, bersama Presiden Terpilih COP30, Andr Corrêa do Lago, ingin dunia melihat secara langsung tantangan nyata terkait perubahan iklim yang dihadapi oleh masyarakat yang rentan. Selain itu, mereka ingin menekankan bahwa keberlanjutan tidak dapat dipisahkan dari upaya mengatasi ketimpangan sosial. Diperkirakan sekitar 90.000 peserta akan hadir, dan Brasil masih berjuang untuk mempersiapkan akomodasi, seperti yang dikutip dari laman AP pada hari Senin (28/7/2025).

Dua kapal pesiar telah disiapkan sebagai hotel terapung dengan total kapasitas 6.000 tempat tidur, sementara masyarakat lokal didorong untuk menyewakan rumah mereka. Meskipun lonjakan biaya akomodasi menjadi keluhan, di mana beberapa harga mencapai USD 15.000 (sekitar Rp245 juta) per malam, pemerintah menyatakan bahwa harga mulai menunjukkan penurunan dan sistem pemesanan resmi telah dibuka untuk 98 negara yang paling miskin. COP30 menjadi momen penting dalam negosiasi iklim global, di mana sesuai dengan Perjanjian Paris 2015, tahun ini semua negara diharapkan untuk memperbarui rencana nasional mereka dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca.

belem brasil
belem brasil aljazeera

PBB menargetkan untuk menyelesaikan seluruh dokumen sebelum bulan September agar dapat dievaluasi sebelum konferensi dimulai. Target global yang ditetapkan tetap sama, yaitu menjaga agar pemanasan bumi tidak melebihi 1,5 derajat Celsius jika dibandingkan dengan masa pra-industri. Namun, saat ini suhu global hampir mencapai batas tersebut, sehingga tantangan yang dihadapi semakin berat. Do Lago mengungkapkan bahwa rencana yang diajukan oleh negara-negara mungkin belum cukup ambisius, sehingga penutupan celah emisi akan menjadi fokus utama dalam negosiasi di Belem. Meskipun beberapa isu penting tidak termasuk dalam agenda formal, seperti pendanaan iklim sebesar USD 1,3 triliun untuk negara-negara berkembang, Brasil tetap berkomitmen untuk menjadikan isu hutan dan alam sebagai prioritas utama.

belem brasil
belem brasil aljazeera
Brasil Sengaja Pilih Kota Termiskin untuk Jadi Tuan Rumah KTT Iklim PBB, Kenapa?
Brasil akan menjadi tuan rumah konferensi iklim PBB COP30 pada November 2025 di kota Belem, Amazon, (Dok. AFP). © 2025 Liputan6.com

Hutan Amazon, yang dikenal sebagai paru-paru dunia, kini menghadapi ancaman serius akibat penebangan hutan. Beberapa area bahkan telah beralih dari berfungsi sebagai penyerap karbon menjadi sumber emisi, yang merupakan paradoks menyedihkan dalam konteks krisis iklim. Namun, harapan baru muncul setelah Mahkamah Agung PBB memutuskan bahwa lingkungan yang bersih dan sehat merupakan bagian dari hak asasi manusia. Keputusan ini membuka peluang untuk meningkatkan tekanan internasional terhadap negara-negara yang kurang bertindak dalam menjaga lingkungan.

Do Lago menekankan pentingnya bagi negara-negara untuk menganggap transisi menuju ekonomi hijau sebagai peluang, bukan sebagai beban. Ia menyatakan bahwa ini adalah kesempatan untuk berkembang dan berinovasi. Konferensi COP30 diharapkan tidak hanya menjadi ajang untuk menyampaikan keluhan dan janji-janji, tetapi juga diingat sebagai "COP solusi". Pertemuan ini seharusnya menjadi momen bagi dunia untuk menyadari bahwa menyelamatkan iklim juga berarti membangun masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Rekomendasi