Mahathir Bela Rusia dalam Kasus Jatuhnya MH17

Jumat, 21 Juni 2019 17:40 Reporter : Merdeka
Mahathir Bela Rusia dalam Kasus Jatuhnya MH17 Mahathir Mohamad menang Pemilu Malaysia. ©REUTERS/Lai Seng Sin

Merdeka.com - Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengomentari soal dakwaan tim penyelidik Belanda terhadap empat pria dalam tragedi Malaysia Airlines MH17 yang disampaikan kemarin.

Mahathir menyebut putusan hukum itu "konyol" dan bernuansa "politis."

Tiga orang Rusia dan seorang Ukraina dituduh membawa rudal ke Ukraina timur yang menembak jatuh pesawat Malaysia Airlines MH17 pada 17 Juli 2014. Semua 298 orang di dalamnya tewas --termasuk 12 WNI.

Ketiga pria Rusia yang didakwa memiliki kaitan dengan dinas-dinas intelijen Negeri Beruang Merah, serta dituduh terlibat dalam konflik separatis di Ukraina timur --antara pemberontak yang diduga pro-Rusia melawan tentara pemerintah.

Surat perintah penangkapan internasional telah dikeluarkan untuk keempat tersangka dan kasus pengadilan akan dimulai di Belanda pada 9 Maret 2020.

"Sejak awal, ini menjadi masalah politik tentang bagaimana untuk menuduh Rusia bahwa mereka yang melakukan kesalahan," kata Mahathir, seperti dilansir BBC, Jumat (21/6).

Pemimpin Malaysia yang berusia 93 tahun itu terus mempertanyakan bukti tentang dugaan keterlibatan Rusia, bersikeras "sejauh ini, tidak ada bukti, (semua itu) hanya kabar angin."

Ketika ditanya apakah reaksinya yang membela Rusia ada hubungannya dengan ekspor minyak sawit Malaysia ke Negeri Beruang Merah, PM Mahathir mengatakan "tidak."

Sawit merupakan komoditas ekspor andalan Malaysia, dengan Rusia sebagai salah satu pasar utama.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga menolak dakwaan tim penyelidik yang mengumumkan hasil temuan mereka seputar MH17 pada Kamis 20 Juni 2019.

Malaysia sendiri merupakan bagian dari tim investigasi gabungan yang dipimpin Belanda (JIT), yang telah bekerja pada penyelidikan kriminal selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, sebuah pernyataan dari kementerian luar negeri Malaysia mengatakan, pihaknya tetap berkomitmen pada proses penyelidikan dan hukum yang berlaku.

Tanggapan Belanda

Sesampainya di KTT Uni Eropa di Brussels, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengkritik pernyataan PM Malaysia dan mengatakan bahwa Kemlu Belanda telah berhubungan dengan rekan-rekannya di Kuala Lumpur.

"Saya bisa membayangkan kerabat akan secara alami sangat kecewa dengan hal itu dan itu juga menyebabkan kebingungan," katanya kepada wartawan.

Siapa Keempat Tersangka yang Didakwa?

(1) Igor Girkin alias Strelkov, eks kolonel di badan intelijen dan keamanan domestik Rusia (FSB) --kata menurut jaksa penuntut di Belanda.

Girkin memiliki gelar sebagai menteri pertahanan di kota Donetsk, Ukraina timur yang dikuasai pemberontak.

Pria itu, yang juga diyakini sebagai perwira militer tertinggi di Donetsk, diduga melakukan kontak langsung dengan Federasi Rusia.

Dalam sebuah pernyataan, Girkin membantah keterlibatan.

(2) Sergei Dubinsky alias Khmury, dipekerjakan oleh badan intelijen militer Rusia (GRU), tangan kanan Girkin dan kerap berkontak reguler dengan Rusia.

(3) Oleg Pulatov alias Giurza, eks unit pasukan khusus GRU dan wakil kepala dinas intelijen di Donetsk.

(4) Leonid Kharchenko, WN Ukraina. Tak memiliki latar belakang militer tetapi memimpin unit tempur di Ukraina timur.

"Para tersangka ini tampaknya telah memainkan peran penting dalam kematian 298 warga sipil tak berdosa", kata kepala jaksa Belanda, Fred Westerbeke.

"Meskipun mereka tidak menekan tombolnya sendiri, kami mencurigai mereka melakukan kerja sama yang erat untuk mendapatkan (peluncur rudal) di tempat itu (Donetsk), dengan tujuan untuk menembak jatuh sebuah pesawat."

Rusia bersikeras bahwa tidak ada bukti nyata untuk mendukung tuduhan bahwa rudal itu berasal dari wilayahnya atau bahwa pejabat Rusia telah terlibat dalam kampanye separatis melawan pasukan Ukraina.

Tetapi para penyelidik mengatakan bahwa mereka berhasil membuktikan rudal anti-pesawat Buk (produksi Rusia) yang menjatuhkan MH17. Rudal itu diangkut ke Ukraina timur dari brigade militer Rusia ke-53 yang berbasis di Kursk.

Para penyelidik juga merilis audio panggilan telepon yang disadap enam hari sebelum kecelakaan. Panggilan itu menunjukkan komunikasi antara Vladislav Surkov, seorang pembantu utama Presiden Putin, dengan mantan kepala kelompok pemberontak Republik Donetsk, Alexander Borodai. Keduanya membahas suplai senjata Rusia ke Donetsk.

Penyadapan lain yang terpisah, kata para penyelidik, menampilkan Igor Girkin memohon materi pertahanan anti-pesawat dari Sergei Aksenov, pemimpin Rusia di Krimea yang baru-baru ini dianeksasi.

Penyelidik mengatakan mereka ingin tahu siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan di Rusia, terutama yang memutuskan peluncur rudal Buk akan dikirim ke Ukraina dan siapa yang akan membawanya.

Seorang pakar militer Rusia mengatakan kepada kantor berita Tass bahwa ketika permusuhan "sedang berlangsung", Vladislav Surkov tidak pernah berbicara melalui telepon dengan para pemimpin separatis di Ukraina timur untuk alasan keamanan.

Penerbangan komersial relasi Amsterdam - Kuala Lumpur itu jatuh saat melintasi Ukraina timur yang tengah dilanda pemberontakan bersenjata.

Jet penumpang meninggalkan Bandara Schiphol Amsterdam pukul 10:15 GMT pada 17 Juli 2014 dan dijadwalkan tiba di Kuala Lumpur di Malaysia pada hari berikutnya.

Beberapa jam setelah lepas landas, pesawat kehilangan kontak dengan kontrol lalu lintas udara sekitar 50 kilometer dari perbatasan Rusia-Ukraina.

Pada saat itu, konflik bersenjata berkecamuk di tanah di timur Ukraina antara separatis yang didukung Rusia dan pasukan pemerintah Ukraina, dan beberapa pesawat militer pemerintah telah jatuh dalam minggu-minggu sebelumnya, sementara serangan udara pemerintah sedang dilakukan pada pemberontak.

MH17 jatuh di wilayah Donetsk, di wilayah yang dikuasai oleh separatis. Sebagian puing-puing itu ditemukan tersebar di area seluas sekitar 50 km persegi.

Pada Oktober 2015, Dewan Keamanan Belanda menyimpulkan pesawat itu ditabrak oleh rudal Buk (buatan Rusia), menyebabkannya meledak di udara.

JIT - yang mencakup pejabat dari Belanda, Australia, Belgia, Malaysia, dan Ukraina - menyimpulkan pada Mei 2018 bahwa sistem rudal itu milik brigade Rudal Anti-Pesawat ke-53, yang berpusat di kota Kursk, Rusia barat. Ini menghasilkan bukti yang dikatakan membuktikan bagaimana sistem rudal telah mencapai Ukraina timur.

Telunjuk mengarah pada Rusia, yang dituduh menyuplai senjata kepada kelompok pemberontak yang melawan pasukan pemerintah Ukraina.

Namun, Moskow konsisten membantah tuduhan --baik yang tersirat maupun langsung-- terhadap militernya, menyangkal bahwa hal tersebut "sangat minim bukti."

Reporter: Happy Ferdian Syah Utomo

Sumber: Liputan6.com [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini