Lowongan Kerja dengan Gaji Rp 18 Juta Per Hari, Tugasnya Distribusi Bantuan Kemanusiaan di Gaza Atas Nama Israel
Perusahaan tentara bayaran AS buka lowongan di Linkedin untuk awasi bantuan di Gaza atas nama Israel.
Perusahaan swasta asal Amerika Serikat akan menangani pendistribusian bantuan di Gaza atas nama Israel.
Perusahaan kontraktor militer swasta asal Amerika Serikat (AS) yang ditunjuk untuk mengawasi distribusi bantuan ke Gaza atas nama Israel kini tengah aktif membuka lowongan pekerjaan di Linkedin. Informasi ini dilansir dari unggahan lowongan kerja yang dibagikan kepada Middle East Eye oleh sejumlah pejabat AS, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun.
Perusahaan tersebut bernama Safe Reach Solutions (SRS), mereka mengatakan “sedang mencari ‘Petugas Penghubung Bantuan Kemanusaan’ yang nantinya akan menjadi peran penting antara tim operasional kami dan komunitas kemanusiaan yang lebih luas,” demikian deskripsi unggahan tersebut.
Posisi petugas penghubung berfokus pada analisis, dan kandidat yang diharapkan adalah yang mampu “memberi masukan praktik terbaik dalam berinteraksi dengan populasi terdampak, otoritas lokal, dan organisasi komunitas” sambil memantau perkembangan yang bisa memengaruhi “postur operasioal”.
Punya pengalaman minimal tujuh tahun
Terdapat juga lowongan lain yang diunggah sepekan lalu dan kini sudah ditutup. Mereka mencari “wakil/manajer tim” untuk mendukung manajemen harian, perencanaan, dan eksekusi misi.
Posisi Wakil Tim lebih menekankan latar belakang operasi. Salah satu syaratnya adalah memiliki “pengalaman lapangan di Timur Tengah, khususnya di wilayah konflik atau pasca-krisis”
Kedua lowongan tersebut mewajibkan pelamar minimal memiliki pengalaman minimal tujuh tahun, warga negara AS, serta fasih dalam bahasa Arab.
Ironisnya, SRS mengincar kandidat yang berpengalaman di PBB, padahal rencana pengambilalihan distribusi bantuan ini justru ingin menggeser peran PBB yang selama ini menyalurkan bantuan di Gaza.
“Para profesional tingkat menengah hingga senior ini akan membantu menjembatani komunikasi, koordinasi, dan kepercayaan dengan LSM, lembaga internasional, serta badan-badan PBB yang beroperasi di lingkungan kompleks,” lanjut deskripsi tersebut.
Tingginya Minat Pelamar
Menurut data Linkedin, lebih dari 100 orang telah melamar di posisi Petugas Penghubung dalam dua pekan. Posisi Wakil Tim juga dibanjiri oleh komentar calon pelamar, salah satunya ada yang menandai “Ali Ali” yakni akun milik konsultan rekrutmen SRS.
Komentar itu berbunyi, “Hai Ali, saya pernah bekerja di Gaza musim panas lalu bersama Angkatan Darat AS. Saat itu saya bertanggung jawab atas pengiriman bantuan kemanusiaan melalui dermaga trident. Mohon hubungi saya."
Dikabarkan bahwa sebelumnya saat pemerintah Biden pernah ada proyek dermaga bernilai tinggi untuk memasukkan bantuan ke Gaza, namun banyak pihak menilai proyek itu gagal.
Tentara Bayaran Mulai Berdatangan
Kontraktor-kontraktor militer AS sudah mulai tiba di Israel. Hal ini diperlihatkan dari foto-foto yang beredar di media sosial tentang pria berjanggut berbusana warna khaki di Bandara Ben Gurion, Tel Aviv.
SRS dipimpin mantan perwira paramiliter CIA, Phil Reilly, yang pernah bertugas di Asia, Afganistan, dan Irak. Dua pejabat AS mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Reilly telah mendapat kepercayaan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan sejumlah pengusaha dekatnya. Salah seorang pengusaha Israel menyebut proyek distribusi bantuan ini bernilai “ratusan juta AS” setara dengan Rp 1,6 – 8 triliun.
SRS juga termasuk perusahaan yang menggunakan Koridor Netzarim di Gaza selama gencatan senjata singkat antara Hamas-Israel pada Januari lalu.
Menurut laporan Reuters, kontraktor AS dibayar sebesar USD 1.000 per hari (Rp 18 Juta) dan juga mendapat uang muka USD 10.000 (Rp 164 Juta) untuk veteran.
Seorang pejabat AS mengatakan bahwa biaya operasi SRS selama gencatan senjata pertama “mayoritas ditanggung AS dan negara-negara Teluk,” sementara senjata serta logistik kontraktor dipasok oleh AS. Pejabat ini juga mengatakan bahwa kisaran gaji mereka “melampaui bayaran yang dulu diberikan ke Blackwater.”
Israel telah memblokir masuknya truk bantuan ke Gaza sejak 2 Maret. Pada Senin (19/5) waktu setempat, mereka mulai mengizinkan kembali truk bantuan masuk ke Gaza. Namun menurut PBB, hingga kini bantuan kemanusiaan belum benar-benar didistribusikan.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey