Kanibalisme, kebudayaan yang sudah mengakar kuat
Merdeka.com - Belakangan ini masyarakat dunia digemparkan oleh isu keberadaan 'zombie' yang berkeliaran dan memburu manusia. Faktanya, zombie-zombie tersebut tak lain adalah manusia yang memakan sesamanya atau disebut juga kanibal.
Beberapa kasus kanibalisme yang terjadi belakangan ini adalah hal yang patut disalahkan atas merebaknya isu tersebut. Seperti kasus mengenai seorang mahasiswa Morgan State University asal Afrika, Alexander Kinyua, yang tega membunuh teman sekamarnya dan memakan jantung serta otaknya. Selain itu juga ada seorang suami asal Swedia yang memotong dan memakan bibir istrinya yang ketahuan selingkuh. Belum lagi, kasus zombie pemakan wajah yang ditembak mati oleh kepolisian Miami beberapa minggu lalu.
Kanibalisme mungkin masih membuat banyak orang heran dan bertanya-tanya. Bagaimana seorang manusia bisa memakan tubuh manusia lainnya? Apakah ini berkaitan dengan masalah psikologis? Apakah kanibalisme bisa menimbulkan efek samping? Bidang kesehatan mungkin bisa menjawab pertanyaan ini.
Namun yang jelas, kanibalisme yang terjadi akhir-akhir ini bukan merupakan hal yang baru. Meskipun praktik kanibalisme tergolong kejam bagi masyarakat modern, kenyataannya sejak jaman dahulu, banyak suku kuno atau suku pedalaman yang mempraktikkan kanibalisme.
Suku Carib misalnya, adalah suku yang disebut-sebut sebagai suku pertama yang diketahui melakukan kanibalisme. Nama "Carib" sendiri merupakan nama yang diberikan oleh Columbus yang berasal dari nama "caniba" atau "Caribbean" yang berarti "manusia yang memakan manusia lain."
Selain suku Carib, masih banyak lagi suku yang diketahui melakukan praktik kanibalisme, seperti suku Gimi dan Korowai di Papua Nugini, suku Wari yang berasal dari Brazil, suku Aztec dan Native America, suku Maori, dan Fiji. Tak hanya suku-suku kuno atau pedalaman, kanibalisme juga dilakukan oleh kelompok-kelompok orang tertentu seperti sekte Aghori di India, atau sekelompok orang di Meksiko dan Afrika.
Pertanyaan yang kemudian sering muncul mengikuti fakta ini adalah: "Mengapa mereka melakukan praktik kanibalisme?"
Setiap budaya tentu memiliki akar kepercayaan yang tumbuh dan berkembang sejak jaman nenek moyang dan jarang sekali bisa dibantah atau dirusak oleh generasi mereka secara turun-temurun. Begitu juga dengan praktik kanibalisme ini. Pada beberapa suku, kanibalisme telah menjadi sebuah budaya yang mendarah daging pada setiap anggota masyarakatnya. Kepercayaan yang mereka miliki terkait dengan proses kanibalisme ini juga bermacam-macam.
Kanibalisme dipercayai bisa menambah kekuatan dan kesehatan
Beberapa budaya berkeyakinan bahwa dengan memakan daging manusia lain, mereka akan mendapatkan tubuh yang sehat dan mendapat kekuatan. Budaya yang menganut kepercayaan seperti ini adalah suku Gimi di Papua Nugini dan suku Wari.
Masyarakat suku Gimi seringkali menghadapi masalah infertilitas seperti impotensi dan mandul pada wanita. Mereka meyakini dengan memakan organ vital milik orang lain yang sudah mati, mereka akan mendapatkan kembali kesuburan. Kanibalisme pada suku ini juga seringkali dilakukan oleh wanita yang memakan tubuh anak, suami, atau orang tua mereka sendiri untuk menghindari kemandulan dan menambah kesuburan. Sama halnya dengan suku Wari yang menganggap bahwa mereka bisa menambah kekuatan jiwa dan raga mereka dengan memakan otak, jantung, serta hati kerabat mereka yang telah meninggal.
Kanibalisme berkaitan dengan ritual dan spiritual
Selain dihubung-hubungkan dengan faktor kesehatan, beberapa suku atau kelompok juga mengaitkan kanibalisme dengan hal spiritual, seperti yang diyakini oleh suku Aztec, Korowai, dan sekte Aghori.
Suku Aztec menganggap praktik kanibalisme sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa. Mereka mengorbankan manusia setiap tahunnya dan memakan jantung korban yang masih berdetak. Tak jauh berbeda dengan suku Aztec, sekte Aghori di India juga meyakini bahwa dengan memakan daging manusia, mereka bisa lengsung bersatu dengan Tuhan dan tak perlu mengalami proses reinkarnasi.
Meskipun sedikit berbeda, namun suku Korowai yang ada di Papua Nugini juga mengaitkan kanibalisme dengan hal-hal mistis dan spiritual. Suku Korowai akan memakan daging manusia yang dianggap sebagai dukun atau penyihir yang merupakan hal terlarang di masyarakat mereka. Mereka memakan daging orang yang diyakini dukun itu saat otak mereka masih hangat.
Kanibalisme tunjukkan penaklukkan atas musuh
Sementara itu, beberapa suku seperti suku Native America, Maori, Karankawa di Texas, serta sekelompok orang di Meksiko punya alasan lain terkait praktik kanibalisme yang mereka lakukan. Suku-suku dan sekte ini kebanyakan hanya memakan daging musuh mereka. Alasannya, mereka meyakini bahwa daging musuh mereka akan menambah kharisma dan menunjukkan kekuatan mereka yang sanggup menaklukkan musuh.
Suku karankawa di Texas yang termasuk dalam suku Native America bahkan memotong-motong dan memakan daging musuh mereka secara langsung, di depan mata musuh mereka yang masih hidup.
Kanibalisme sebagai kebiasaan masyarakat
Seperti yang diyakini oleh suku-suku di atas, ada kalanya kanibalisme memang didasari oleh keyakinan yang kuat terhadap suatu hal yang telah diajarkan oleh leluhur mereka. Namun selain itu, ada kalanya juga praktik kanibalisme hanya dilakukan atas dasar kebiasaan dan tradisi, tanpa alasan yang pasti. Seperti yang dilakukan oleh suku Fiji dan sekelompok orang di Afrika. Kepala suku Fiji sendiri bahkan dengan bangga pernah mengumumkan bahwa dia telah memakan 875 orang. Sementara itu, meskipun tersembunyi, sekelompok orang di Afrika juga menculik pendatang dan memotong-motong mayat mereka tanpa alasan yang jelas. Beberapa rumor mengatakan bahwa sebagian organ tersebut dijual, namun sebagian mengatakan bahwa sekelompok orang pedalaman memakan mayat-mayat tersebut.
Berdasarkan penjabaran di atas, jelaslah bahwa meskipun sudah hampir tak pernah terjadi, namun kanibalisme sesungguhnya bukanlah hal yang langka. Bahkan kenyataannya banyak masyarakat kuno atau sekelompok orang yang telah dan masih melakukan praktik kanibalisme hingga saat ini. Bisa jadi, praktik kanibalisme sendiri sesungguhnya tak pernah hilang. Atau mungkinkah, praktik kanibalisme yang ada saat ini merupakan warisan yang diturunkan oleh kebudayaan di masa lampau? (mdk/kun)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya