Ilmuwan Temukan Fosil Nenek Moyang Awal Manusia Berusia 2 Juta Tahun, Bisa Berjalan Tegak Seperti Manusia Modern
Spesies manusia purba ini juga menggunakan perkakas batu dan tulang untuk bertahan hidup.
Para ilmuwan menemukan fosil spesies manusia purba, Paranthropus robustus, yang hidup 2 juta tahun lalu di Gua Swartkrans, Afrika Selatan. Di zaman purba, Paranthropus robustus hidup berdampingan dengan nenek moyang langsung manusia modern, Homo ergaster.
Tim ilmuwan internasional yang berafiliasi dengan Institut Studi Evolusi di Universitas Witwatersrand (Wits University) di Afrika Selatan, termasuk Travis Pickering, Matthew Caruana, Marine Cazenave, Ron Clarke, Jason Heaton, A.J. Heile, Kathleen Kuman, dan Dominic Stratford, menemukan kelompok fosil yang terdiri dari satu Paranthropus Robustus dewasa muda.
Fosil tersebut tidak hanya menunjukkan bahwa Paranthropus robustus memiliki kebiasaan berjalan tegak seperti manusia modern, namun juga ukurannya juga sangat kecil. Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Human Evolution.
“Diperkirakan individu ini, mungkin wanita, hanya memiliki tinggi sekitar 1 meter dan berat 27 kg ketika meninggal, sehingga lebih kecil dibandingkan manusia dewasa dari spesies manusia purba kecil lainnya, termasuk yang diwakili oleh kerangka ‘Lucy’ (Australopithecus afarensis, berusia sekitar 3,2 juta tahun) dan ‘Hobbit’ (Homo floresiensis, berusia sekitar 90.000 tahun) yang terkenal, masing-masing dari Ethiopia dan Indonesia,” kata pemimpin penelitian, Profesor Travis Pickering, dikutip dari laman Phys, Kamis (6/3).
Postur Paranthropus Robustus yang mungil membuatnya rentan terhadap predator seperti kucing bergigi tajam dan hyena raksasa—yang diketahui menghuni area sekitar Gua Swartkrans. Dugaan ini diperkuat penyelidikan tim terhadap kerusakan pada permukaan fosil, yang mencakup bekas gigi dan kerusakan akibat gigitan lainnya yang serupa dengan yang dilakukan macan tutul pada tulang mangsanya.
Pickering menyampaikan, spesies ini juga menggunakan perkakas batu dan tulang untuk bertahan hidup. Perkakas tersebut digunakan untuk menyembelih hewan untuk diambil dagingnya dan menggali akar-akaran yang dapat dimakan serta serangga bawah tanah.
Namun masih menjadi pertanyaan apakah Paranthropus Robustus atau Homo ergaster atau keduanya, adalah pembuat dan pengguna alat-alat tersebut. Para peneliti meyakini Paranthropus Robustus kemungkinan besar memiliki kemampuan kognitif dan fisik untuk membuat perkakas dan menggunakannya.
Investigasi lanjutan yang dilakukan tim terhadap fosil tersebut mencakup analisis CT-scan terhadap struktur tulang internal, yang akan memberikan informasi tambahan mengenai pola pertumbuhan dan perkembangan Paranthropus robustus.