Dua badak putih utara terakhir di muka Bumi, Najin (35) dan putrinya, Fatu (24), terlihat merumput bersama di Suaka Margasatwa Ol Pejeta, Laikipia, Kenya pada 6 Februari 2025. Kedua badak itu mencoba untuk tetap bertahan sebelum benar-benar punah akibat perburuan liar yang telah mengancam keberadaannya selama bertahun-tahun.
Namun, terobosan ilmiah terbaru memberikan secercah harapan. Tahun ini, dunia berpotensi menyaksikan perkembangan janin badak putih utara pertama melalui teknologi reproduksi buatan.
Jika berhasil, ini akan menjadi pencapaian luar biasa bagi upaya konservasi, terutama setelah spesies ini dinyatakan punah secara fungsional sejak kematian pejantan terakhir, Sudan, pada 2018.
Sayangnya, baik Najin maupun Fatu tidak dapat mengandung secara alami akibat masalah pada rahim mereka.
Meski demikian, Fatu masih mampu menghasilkan sel telur yang layak, menjadikannya kandidat utama dalam program fertilisasi in-vitro (IVF). Upaya ini diharapkan dapat menyelamatkan spesies badak putih utara dari kepunahan dan menjadi langkah besar dalam dunia konservasi satwa langka.