Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Dubes Rusia sebut tuduhan Inggris soal serangan agen saraf 'absurd'

Dubes Rusia sebut tuduhan Inggris soal serangan agen saraf 'absurd' Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva. ©2018 Merdeka.com/farah fuadona

Merdeka.com - Rusia saat ini sedang memeriksa laporan dari organisasi untuk pelarangan senjata kimia (OPCW) di Moskow. Sebelumnya empat laboratorium yang terkait dengan badan pemantau senjata kimia internasional telah mengukuhkan temuan di Inggris bahwa agen saraf digunakan bulan lalu untuk meracuni mantan mata-mata Rusia dan putrinya.

"Tapi yang dapat saya pastikan dari laporan ini bahwa tidak ada bukti Rusia terlibat dalam insiden ini. Bahkan (tuduhan) hanya beberapa saat setelah kejadian, tanpa ada klarifikasi," ujar Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva ditemui di kediamannya, Jumat (14/4).

Menurutnya, tidak ada satu pun pihak yang bisa menunjukkan bukti keterlibatan Rusia.

"Kami sudah berulang kali mengajukan pertanyaan dan meminta informasi, apa yang sebenarnya terjadi kemudian investigasi terkait kasus ini. Tapi kami tidak diberikan informasi apapun, kami juga tidak diberikan akses kekonsuleran untuk bertemu dengan Skripal, meski dia memiliki dua kewarganegaraan. Sekarang bahkan kita tidak tahu di mana keberadaan Skripal," ujar Lyudmila kepada wartawan.

Ramai dipemberitaan media barat bahwa Yulia Skripal dikabarkan menolak bantuan Kedutaan Besar Rusia di Inggris dalam insiden peracunan. Keterangan yang disampaikan Kepolisian Inggis atas nama Yulia mengatakan bahwa Sergei Skripal masih dalam penanganan serius rumah sakit akibat racun Novichok yang dipakai menyerang Sergei dan dirinya.

Yulia juga mengaku sudah menghubungi teman-teman dan keluarga juga dengan pihak Kedubes Rusia di London yang menawarkan bantuan jika diperlukan.

Kedubes Rusia di London justru meragukan pernyataan putri Skripal tersebut dan menuduh otoritas Inggris menghalang-halangi untuk dilakukan penyelidikan.

"Semua bukti sudah dihancurkan. Ini membuat kita harus bekerja keras untuk menemukan. Sejauh ini tidak ada bukti tentang keterlibatan Rusia. Kita justru banyak mendapat informasi dari media massa," tambah Lyudmila menanggapi kasus yang menyebabkan diplomat mereka diusir dari sejumlah negara.

"Jika Anda ingat hanya dua hari setelah insiden ini terjadi, Britain membuat keputusan diplomatik bahwa Rusia ada di balik ini, memulai perang diplomatik dengan mengusir perwakilan diplomatik kami. Mereka mengatakan membutuhkan waktu untuk investigasi, tapi sudah deklarasi bahwa Rusia adalah yang bertanggung jawab," katanya.

Lyudmila menilai tuduhan tersebut absurd karena dilakukan setelah Pemilu Rusia dan menjelang Piala Dunia yanga akan diselenggarakan Juni mendatang.

"Anda juga harus lihat dari kasus ini, siapa yang mengambil keuntungan. Untuk apa Rusia mengambil keuntungan dari kasus ini, hanya beberapa saat setelah pemilu dilakukan atau hanya sebelum piala dunia akan diselenggarakan. Untuk apa kita melakukan itu? Ini sebenarnya absurd," kata dia.

Logika yang sama juga disampaikan dalam permasalahan konflik di Suriah kenapa pemerintah Suriah justru menyerang warganya sendiri dengan senjata kimia. Kenapa mereka harus melakukan itu? Apa alasan dan motivasinya?

"Jadi baik itu Rusia maupun Suriah tidak mungkin mengambil keuntungan dari hal semacam ini. Jadi pertanyaannya, siapa yang mengambil keuntungan dari kasus ini?" jelasnya.

(mdk/dan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP