Dr. Wahyu Bimantoro, seorang dokter relawan dari Tim Medis Darurat (EMT) MER-C ke-8, baru saja kembali dari misi kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina, yang berlangsung lebih dari sebulan. Ia tiba di Indonesia pada Kamis, 17 April 2025. "Alhamdulillah Allah mudahkan sehingga kita sampai kembali Tanah Air dan selamat," ungkapnya melalui akun Instagram MER-C Indonesia @mercindonesia yang dikutip pada Minggu, 20 April 2025.
Selama misi tersebut, dr. Wahyu menceritakan pengalamannya dan mengungkapkan bahwa situasi di Gaza semakin memburuk setelah gencatan senjata berakhir pada 18 Maret 2025. "Situasi kondisi saat ini yang membuat semuanya di luar rencana kami. Gaza saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja dan parah. Sejak tanggal 18 Maret kemarin serangan tidak menentu, random dan di seluruh wilayah Gaza. Dan kebetulan wilayah Rumah Sakit Indonesia termasuk wilayah yang banyak sekali mengalami pengeboman sekitarnya. Sehari bisa sampai 20-30 kali dan itu rutin sejak awal," jelasnya.
Dr. Wahyu menambahkan, "Alhamdulillah kami semua dalam keadaan baik. Kami semuanya berharap bahawa segera ada gencatan senjata dan segera ada pembukaan jalur-jalur bantuan makanan dan obat-obatan. Kekejaman di seluruh dunia ini luar biasa dan warga Gaza ini kelaparannya luar biasa. Kesulitannya luar biasa. Di setiap wilayah rumah sakit semua juga mengalami kesulitan." Dalam penjelasannya, ia menyatakan bahwa puluhan serangan terjadi hampir setiap hari di seluruh wilayah Gaza, mengakibatkan banyak korban jiwa dan luka-luka. Bahkan, gedung milik PBB juga tidak terhindar dari serangan.
Lebih lanjut, dr. Wahyu menjelaskan, "Jadi kami melihat sendiri foto yang diberitahu oleh anggota UN bahwa salah satu kamar mereka hancur. Kemudian juga banyak para medis dan dokter yang syahid. Jadi benar-benar tidak ada penghargaan kepada mereka." Ia juga menyoroti bahwa banyak jurnalis yang menjadi korban serangan Israel. "Dan juga masalah pada wartawan dan jurnalis-jurnalis yang banyak mengalami syahid," tuturnya.
Advertisement
Bagaimana keadaan rumah sakit di Gaza, Indonesia?
Selama menjalankan misi, Tim EMT MER-C ke-8 menghadapi berbagai rintangan, namun mereka tetap berhasil melaksanakan tugas dengan baik hingga kembali ke tanah air. Proses rekonstruksi Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara juga terus berlanjut meskipun dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.
"Alhamdulillah Rumah Sakit Indonesia masih berdiri tegak dan mampu melayankan pelayanan. Walaupun para tenaga medis banyak mengalami kelalahan karena mereka sendiri mengalami kesulitan di rumahnya. Bukan di rumahnya, di tendanya ya. Jadi mereka tinggal di tenda dan mereka mengalami serangan juga. Sehingga tampak sekali bahawa mereka kelalahan dan burn out yang ada di situasi ini. Tapi Alhamdulillah kami tetap bisa melayani pelayanan di sana," jelas dia.
Meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi, semangat dan dedikasi para tenaga medis tetap tinggi. Mereka berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang membutuhkan, meskipun harus berjuang dalam kondisi yang sangat sulit. Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya keberadaan fasilitas kesehatan yang dapat diandalkan di tengah krisis.
Advertisement
Jangan lupakan Gaza
Dokter Wahyu menegaskan bahwa serangan yang terus menerus di Gaza telah menciptakan kebutuhan mendesak bagi warganya akan dukungan dan bantuan. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk tetap mengingat Gaza, karena situasi di sana masih sangat memprihatinkan.
Menurutnya, "Mungkin kalau jumlah kecil bisa diselipkan di antara relawan yang masuk. Tapi kalau dalam jumlah besar mungkin masih sulit. Kami berharapkan segera ada kemudahan untuk membantu mereka. Bank pun sekarang sudah ditutup semua sehingga aliran dana pun sulit sekali." Ia menambahkan, "Tetap jangan lupakan Gaza. Mereka sangat perlu bantuan. Mereka kelaparan, mereka kesakitan, mereka kelalahan karena memang perang ini luar biasa panjang. Sudah lebih dari setahun. Tidak seperti biasanya yang paling lama 40 hari, ini benar-benar panjang dan ini membutuhkan ketahanan luar biasa dan bantuan yang luar biasa," pungkasnya.