Arkeolog Temukan Teknologi Pembuat Api di China Berusia 7.000 Tahun, Ternyata Cuma Pakai Dua Alat Ini

Alat kuno ini terdiri dari dua komponen utama yang ditemukan dalam kondisi utuh.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Arkeolog Temukan Teknologi Pembuat Api di China Berusia 7.000 Tahun, Ternyata Cuma Pakai Dua Alat Ini
Arkeolog Temukan Teknologi Pembuat Api di China Berusia 7.000 Tahun, Ternyata Cuma Pakai Dua Alat Ini (Merdeka.com)

Arkeolog di situs penggalian Caoyangang, Provinsi Jiangsu, TChina timur, baru-baru ini menemukan seperangkat alat pembuat api berusia sekitar 7.000 tahun. Penemuan ini menjadi bukti fisik tertua yang diketahui mengenai teknologi pembuatan api di China, yang memberikan wawasan baru tentang kehidupan masyarakat pada masa Neolitikum. Alat-alat ini tidak hanya menunjukkan kemampuan manusia purba untuk menciptakan api, tetapi juga mencerminkan perkembangan teknologi yang luar biasa pada zaman tersebut.

Seperangkat alat yang ditemukan terdiri dari dua komponen utama: sebuah tongkat pemutar (drill stick) yang memiliki panjang lebih dari 60 sentimeter dan papan gesek (fireboard) yang panjangnya mencapai lebih dari 30 sentimeter. Tongkat pemutar ini digunakan dengan cara diputar cepat untuk menghasilkan panas melalui gesekan pada papan gesek. Proses ini merupakan metode kuno yang telah digunakan oleh manusia purba untuk menciptakan api, yang sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.

Gan Huiyuan, yang memimpin penggalian untuk Institut Peninggalan Budaya dan Arkeologi Provinsi Jiangsu, menyebut penemuan ini belum pernah terjadi sebelumnya.

“Peralatan ini adalah peralatan pengeboran api yang paling terawat yang pernah ditemukan di China hingga saat ini,” jelas Huiyuan, dikutip dari ZME Science, Rabu (12/3).

Kondisi kedua alat tersebut sangat terawetkan dengan baik, suatu hal yang luar biasa mengingat usia dan lingkungan lembap di Jiangsu. Papan gesek menunjukkan lebih dari 10 lekukan melingkar berwarna hitam pekat, yang dihasilkan dari proses pembakaran berulang. Selain itu, terdapat alur melingkar di salah satu ujung papan gesek, yang kemungkinan digunakan untuk mengikatkan tali agar alat ini mudah dibawa atau digantung saat tidak digunakan.

Lebih dari 3.000 artefak lainnya juga ditemukan di situs Caoyangang, termasuk tembikar, alat-alat tulang, benda-benda kayu, serta sisa-sisa hewan dan tumbuhan.

Shi Yanyan, anggota Institut Arkeologi Jiangsu, mengatakan situs tersebut memiliki lubang abu, fondasi rumah, dan pagar, yang menunjukkan masyarakat yang mapan dengan keterampilan pertukangan kayu yang canggih.

"Penduduk kuno telah mengembangkan tingkat keterampilan tertentu dalam memanfaatkan dan mengolah kayu," kata Shi.

Alat pembuat api tersebut sangat sesuai dengan mitologi China kuno. Menurut salah satu legenda terkenal, manusia purba membuat api pertama dengan mengebor kayu untuk menghasilkan gesekan.

Penemuan di Caoyangang menambah babak baru dalam sejarah pembuatan api yang panjang dan rumit. Bukti menunjukkan, manusia purba mulai menggunakan api lebih dari 1 juta tahun yang lalu, dengan Homo erectus kemungkinan memanfaatkan api alami dari sambaran petir atau aktivitas gunung berapi.

Sekitar 200.000 tahun yang lalu, Homo sapiens telah mengembangkan metode yang lebih canggih, termasuk perkusi (memukul batu seperti batu api dan pirit) dan teknik gesekan.

Metode pembuatan api dengan gesekan, seperti bor tangan, bor busur, dan bajak api, kemungkinan dipengaruhi oleh bahan lokal dan kondisi lingkungan. Misalnya, gergaji api bambu umum di Asia, sedangkan bor tangan lazim di Afrika dan Australia. Bor api tertua berasal dari lebih dari 9.000 tahun yang lalu di Eropa.

Bor busur, yang mungkin telah diadaptasi dari busur dan anak panah, lebih tersebar luas di daerah yang lebih dingin seperti Kanada dan Alaska. Di Mesir, telah ditemukan bor busur yang berasal dari tahun 2000 SM. Di China, bor api dan papan perapian dari tahun 2500 SM ditemukan di Nekropolis Ji'erzankale. Alat-alat ini sering dibuat dari kayu tertentu seperti poplar dan willow, bahan yang lebih mudah terbakar.

Rekomendasi