Sebuah studi arkeologi terbaru telah mengungkap bukti mengejutkan tentang kehadiran pasukan Mesir dan tentara bayaran Yunani di Megiddo, lokasi yang dikenal dalam Alkitab sebagai Armageddon, pada saat kematian Raja Yosia dari Yehuda pada tahun 609 SM. Penemuan ini, berupa sejumlah besar pecahan tembikar dari Mesir dan Yunani abad ke-7 SM, memberikan dukungan arkeologi terhadap narasi Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama Kristen tentang pertempuran dahsyat antara Raja Yosia dan Firaun Nekho II dari Mesir.
Temuan ini memberikan konteks sejarah yang signifikan terhadap narasi Alkitab yang selama ini menjadi subjek interpretasi yang beragam. Pecahan tembikar, yang diteliti secara cermat berdasarkan jenis tanah liat dan gaya pembuatannya, secara meyakinkan menunjukkan kehadiran pasukan Mesir di Megiddo pada periode tersebut. Kehadiran tentara bayaran Yunani, yang seringkali dipekerjakan oleh kekuatan militer besar pada masa itu, semakin memperkuat gambaran pertempuran skala besar yang terjadi di Megiddo. Demikian disampaikan arkeolog di Universitas Haifa dan Universitas Tel Aviv serta penulis utama studi, Israel Finkelstein kepada Live Science.
Alkitab sendiri memberikan dua versi yang berbeda tentang bagaimana Raja Yosia menemui ajalnya. Kitab Raja-Raja mengisyaratkan bahwa ia dieksekusi oleh Neco, sementara Kitab Tawarikh menggambarkan sebuah pertempuran yang mengakibatkan kematiannya. Namun, bukti arkeologi yang baru ditemukan ini memberikan konteks yang lebih nyata terhadap peristiwa bersejarah ini.
Dalam temuannya yang diterbitkan di The Scandinavian Journal of the Old Testament pada 28 Januari lalu, Finkelstein mengatakan sejumlah besar pecahan tembikar Mesir ditemukan di samping pecahan tembikar Yunani dalam lapisan yang berasal dari akhir abad ketujuh — masa ketika Mesir sering mempekerjakan tentara bayaran Yunani di samping pasukan Mesir. Para peneliti menentukan asal-usul pecahan tersebut dengan memeriksa jenis tanah liat dan gayanya.
Advertisement
Kejatuhan Yerusalem
Pecahan tembikar tersebut mendukung catatan Alkitab yang menyatakan pasukan Mesir berada di Megiddo selama pemerintahan Yosia. Akan tetapi, temuan-temuan tersebut bukanlah bukti langsung bahwa Yosia berada di pertempuran tersebut. Jika Yosia berada di sana, seperti yang dikatakan Alkitab, tidak jelas apakah Yosia meninggal karena luka-luka yang dideritanya selama pertempuran melawan orang Mesir di Megiddo, atau apakah ia dieksekusi di sana sebagai pengikut firaun.
Kematian Yosia kemudian dikatakan sebagai pertanda jatuhnya Yerusalem pada tahun 586 SM oleh kaum Neo-Babilonia di bawah pimpinan Nebukadnezar II, yang pasukannya menghancurkan Bait Suci Pertama, yang juga dikenal sebagai Bait Suci Sulaiman.
Arkeolog dari Universitas Ben-Gurion dan salah satu penulis studi, Assaf Kleiman mengatakan kepada Live Science, konfrontasi antara kedua penguasa itu digambarkan secara berbeda di dua tempat berbeda dalam Alkitab.
"Peristiwa Yosia-Nekho di Megido pada tahun 609 SM digambarkan dalam Alkitab dua kali: sebagai eksekusi dalam ayat kronologis pendek dalam Kitab Raja-Raja dan sebagai pertempuran yang menentukan dalam Kitab Tawarikh," paparnya.
Kleiman menjelaskan, Kitab Raja-Raja ditulis mendekati waktu terjadinya peristiwa yang dilaporkan, tetapi Kitab Tawarikh disusun berabad-abad kemudian, sehingga kisah dalam Kitab Raja-Raja lebih dapat diandalkan.