Fakta Menarik Laba-Laba Brazil, Tidak Memiliki Sarang dengan Jaring Tapi Simpan Racun Neurotoxic

Laba-laba Brazil tidak membuat jaring, tapi dapat membunuh dengan racun neurotoksik. Begini faktanya.

Linda Dwi Nofiani
Oleh Linda Dwi Nofiani - Reporter
Fakta Menarik Laba-Laba Brazil, Tidak Memiliki Sarang dengan Jaring Tapi Simpan Racun Neurotoxic
Fakta Menarik Laba-Laba Brazil, Tidak Memiliki Sarang dengan Jaring Tapi Simpan Racun Neurotoxic (Merdeka.com)

Fakta Menarik Laba-Laba Brazil, Tidak Memiliki Sarang dengan Jaring Tapi Simpan Racun Neurotoxic

Laba-laba Brazil tidak membuat jaring, tapi dapat membunuh dengan racun neurotoksik. Begini faktanya.

Di antara berbagai jenis laba-laba yang tersebar di seluruh dunia, laba-laba Brazil memiliki karakteristik yang sangat unik.

Berbeda dengan kebanyakan laba-laba yang membangun jaring untuk menangkap mangsa, laba-laba Brazil menggunakan metode berburu yang berbeda.

Laba-laba ini mengandalkan keterampilan berburu aktif dan memiliki racun neurotoksik yang sangat mematikan untuk melumpuhkan mangsanya.

Hal ini menjadikan laba-laba Brazil salah satu spesies laba-laba paling berbahaya di dunia.

Untuk pembahasan lebih lanjut, simak artikel di bawah ini!

Laba-Laba yang Memiliki Racun Mematikan

Laba-Laba yang Memiliki Racun Mematikan<br>
© 2024 dream.co.id

Laba-laba pengembara Brazil adalah laba-laba agresif yang termasuk dalam genus Phoneutria, yang dalam bahasa Yunani berarti "pembunuh."

Dikenal juga sebagai laba-laba bersenjata atau laba-laba pisang, mereka adalah salah satu laba-laba paling berbisa di dunia.

Laba-laba ini memiliki mulut besar atau chelicerae yang dapat memberikan gigitan menyakitkan dengan racun neurotoksik yang berpotensi mematikan bagi manusia, terutama anak-anak.

Laba-laba pengembara Brazil sering kali masuk dalam daftar laba-laba paling mematikan di dunia.

Karakteristik Laba-Laba Brazil

Karakteristik Laba-Laba Brazil<br>
Dok. Istimewa

Terdapat 9 spesies laba-laba pengembara Brazil, semuanya aktif pada malam hari dan dapat ditemukan di Brazil. Beberapa spesies juga tersebar di seluruh Amerika Tengah dan Selatan.

Laba-laba Brazil memiliki ukuran besar, dengan tubuh yang bisa mencapai 2 inci (5 cm) dan rentang kaki hingga 7 inci (18 cm).

Warna mereka bervariasi, meskipun semuanya berbulu dan umumnya berwarna coklat dan abu-abu. Beberapa spesies memiliki bintik-bintik berwarna terang di perutnya.

Banyak spesies memiliki garis hitam dan kuning atau putih di bagian bawah kedua kaki depannya.

Tidak Membuat Jaring dan Berburu untuk Mencari Mangsa

Tidak Membuat Jaring dan Berburu untuk Mencari Mangsa<br>
© 2024 dream.co.id

Arakhnida dikenal sebagai laba-laba pengembara karena mereka tidak membuat jaring, melainkan berkeliaran di lantai hutan pada malam hari untuk berburu mangsa.

Sebagian besar waktu mereka dihabiskan bersembunyi di bawah batang kayu atau di celah-celah, dan baru keluar untuk berburu di malam hari. Mereka memangsa serangga, laba-laba lain, dan kadang-kadang amfibi kecil, reptil, serta tikus.

Ketika laba-laba pengembara Brazil merasa terancam, mereka sering mengambil sikap dengan berdiri menggunakan kaki belakang dan merentangkan kaki depan untuk memperlihatkan taringnya. Laba-laba ini juga mampu melompat hingga jarak 1,3 kaki (40 cm).

Perkawinan Laba-Laba Brazil

Perkawinan Laba-Laba Brazil<br>
© 2024 dream.co.id

Seperti kebanyakan spesies laba-laba, laba-laba betina lebih besar daripada laba-laba jantan. Laba-laba jantan melakukan tarian untuk menarik perhatian betina dan sering bertarung satu sama lain untuk mendapatkan kesempatan kawin.

Betina cenderung selektif dan sering menolak banyak pejantan sebelum memilih pasangan. Setelah memilih, pejantan harus berhati-hati karena betina sering menyerang mereka setelah kawin selesai.

Betina dapat bertelur hingga 1.000 butir sekaligus, yang disimpan dengan aman dalam kantung telur dari sutra. Laba-laba pengembara Brazil biasanya hidup selama satu hingga dua tahun.

Racun Laba-Laba Brazil

Racun Laba-Laba Brazil<br>
Dok. Istimewa

Racun laba-laba pengembara Brazil adalah campuran kompleks dari racun, protein, dan peptida yang mempengaruhi saluran ion dan reseptor kimia dalam sistem neuromuskular korbannya.

Ketika manusia digigit oleh salah satu laba-laba ini, mereka mungkin mengalami gejala awal seperti rasa sakit yang parah di lokasi gigitan, berkeringat, dan merinding.

Dalam waktu 30 menit, gejalanya dapat menjadi sistemik dan mencakup tekanan darah tinggi atau rendah, detak jantung yang cepat atau lambat, mual, kram perut, hipotermia, vertigo, penglihatan kabur, kejang, dan keringat berlebih yang dapat menyebabkan syok.

Rekomendasi