Dalam ajaran Islam, terdapat keyakinan terhadap hal-hal yang tidak terlihat, termasuk iman kepada Allah, keberadaan para Malaikat, serta hal-hal gaib lainnya seperti Jin. Pendakwah dari Muhammadiyah, Ustadz Adi Hidayat (UAH), menekankan bahwa jika dilihat dari makna asal, Jin berarti sesuatu yang tersembunyi dan tidak dapat dilihat oleh mata manusia.
Menurut UAH, istilah Jin berlawanan dengan Ins, yang berarti sesuatu yang tampak, yaitu manusia. "Jin disebut Jin karena tersembunyi nggak nampak, lawannya ins, nampak," jelas UAH dalam tayangan YouTube Short @BSLO, dilansir Merdeka.com pada, Kamis(27/3/2025). Dengan demikian, jika Jin menunjukkan wujudnya, itu menandakan bahwa mereka sedang menghadapi sebuah masalah.
UAH juga menjelaskan beberapa poin terkait fenomena ini. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan Jin dapat dipahami lebih dalam, terutama dalam konteks interaksi mereka dengan manusia. Pemahaman ini penting agar kita dapat lebih bijak dalam menghadapi berbagai situasi yang melibatkan hal-hal gaib.
Advertisement
UAH sebelumnya menjelaskan bahwa Jin pada dasarnya tidak terlihat. Ia menegaskan bahwa jika seseorang mengklaim bisa melihat Jin, maka orang tersebut sebenarnya sedang mengalami kondisi kemasukan Jin. "Karena itu Jin fitrahnya nggak nampak, nggak bisa ada yang lihat jin ingat ini ya," ujarnya. "Kalau ada yang mengatakan, saya bisa melihat jin hanya jin yang mampu melihat jin, maka orang itu sedang kemasukan jin, ingat itu!" sambungnya.
Lebih lanjut, UAH menguraikan bahwa sebagai makhluk yang secara alami tersembunyi, jika Jin menampakkan diri, itu menandakan bahwa ia sedang mengalami masalah karena telah keluar dari fitrahnya. "Maka sifat jin itu nggak bisa dilihat oleh manusia tersembunyi. Makanya kalau ada jin melakukan penampakan itu jin sedang pegang punya masalah, karena keluar dari fitrah," tegasnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penampakan Jin bukanlah hal yang wajar dan mencerminkan kondisi yang tidak seharusnya bagi mereka.
Advertisement
Dalam artikel yang ditulis oleh NU Online, Quraish Shihab menjelaskan bahwa makhluk yang dikenal sebagai jin berasal dari kata yang berarti tersembunyi. Hal ini menunjukkan bahwa jin adalah makhluk halus yang tidak dapat dilihat oleh manusia biasa. Meskipun jin dapat menyerupai wujud fisik manusia, hanya orang-orang yang memiliki keistimewaan tertentu atau karomah yang dapat melihat mereka. Kepercayaan terhadap hal-hal ghaib merupakan salah satu pokok ajaran dalam Islam. Hal ini mencakup berbagai aspek yang tidak bisa dijangkau oleh pancaindera manusia, baik karena keterbatasan kemampuan maupun faktor lainnya.
Terdapat banyak hal ghaib yang ada di sekitar kita dengan beragam tingkat keghaibannya. Pertama, ada ghaib mutlak yang sepenuhnya tidak bisa diungkapkan, seperti kematian yang hanya diketahui oleh Allah. Kedua, ada ghaib relatif, di mana sesuatu yang tidak diketahui oleh seseorang dapat diketahui oleh orang lain, seperti ilmu pengetahuan dan makhluk halus. Quraish Shihab juga menyatakan bahwa istilah jin dalam Al-Qur'an merujuk pada sesuatu yang tersembunyi dan tertutup. Ia mengungkapkan beberapa akar kata yang berkaitan, seperti majnun (manusia yang akalnya tertutup), janin (bayi dalam kandungan yang tertutup oleh perut ibu), dan al-junnah (perisai yang menutupi seseorang dari gangguan).
Dari sudut pandang linguistik, jin dapat dipahami sebagai makhluk halus yang tersembunyi, meskipun tidak sepenuhnya tidak terlihat. Beberapa orang yang memiliki keistimewaan tertentu dapat melihat jin, sering kali mereka yang dekat dengan Allah karena akhlak dan pengetahuan mereka. Mengenai kontroversi seputar keberadaan jin, Quraish Shihab mengutip pendapat Ibnu Sina yang menyatakan bahwa jin adalah makhluk yang bersifat hawa dan dapat mengambil berbagai bentuk. Namun, Fakhruddin Ar-Razi menerjemahkan pendapat tersebut sebagai penjelasan tentang arti kata jin, bukan sebagai pengakuan akan eksistensi jin di dunia nyata.
Para filsuf yang mendukung pandangan ini berargumen bahwa jika jin benar-benar ada, mereka pasti memiliki wujud baik dalam bentuk halus maupun kasar. Quraish Shihab menegaskan bahwa ketika seseorang menyebut jin sebagai makhluk halus, itu bukan berarti mereka tidak memiliki wujud sama sekali, melainkan karena manusia tidak mampu melihat mereka. Oleh karena itu, istilah makhluk halus digunakan. Di sisi lain, ada pakar Islam yang rasional yang tidak menolak bahwa Al-Qur'an berbicara tentang jin, namun mereka memahami hal tersebut tidak dalam pengertian harfiah. Terdapat tiga pandangan utama mengenai hakikat jin.
Pertama, jin dipahami sebagai potensi negatif dalam diri manusia, di mana malaikat membawa pengaruh positif, sementara jin dan setan sebaliknya. Pandangan ini menganggap bahwa jin tidak memiliki wujud. Kedua, jin dipahami sebagai virus atau kuman penyakit, meskipun pandangan ini mengakui keberadaan jin. Ketiga, jin dianggap sebagai makhluk liar yang belum berperadaban.
Dari ketiga pandangan ini, dapat disimpulkan bahwa jin adalah makhluk yang memiliki wujud. Namun, Al-Qur'an menjelaskan bahwa, "Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyat [51]: 56) Dengan demikian, jin diciptakan dan memiliki wujud, meskipun berbeda dengan manusia yang diciptakan dari tanah, sementara jin diciptakan dari api. Quraish Shihab menjelaskan bahwa iblis dalam Al-Qur'an berasal dari jenis jin, meskipun tidak semua jin adalah iblis atau setan.
Penulis: Khazim Mahrur / Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul