Curhat Sedih Suami Mpok Alpa, Rindu Momen Kebersamaan dan Omelan Almarhumah Istri

Kehilangan sosok istri tercinta membuat setiap aktivitas harian Aji terasa kosong, bahkan untuk hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap sepele.

M Altaf Jauhar
Oleh M Altaf Jauhar - Reporter
Curhat Sedih Suami Mpok Alpa, Rindu Momen Kebersamaan dan Omelan Almarhumah Istri
Mpok Alpa. [IG: @nina_mpokalpa] (© 2025 Liputan6.com)

Kepergian komedian Mpok Alpa meninggalkan kesedihan mendalam bagi suaminya, Aji Darmaji. Kehilangan sosok istri tercinta membuat setiap aktivitas harian Aji terasa kosong, bahkan untuk hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap sepele.

Seperti yang telah diketahui, Mpok Alpa meninggal dunia pada 15 Agustus 2025 di Jakarta setelah berjuang melawan kanker payudara. Aji Darmaji mengungkapkan bahwa yang paling dirasakannya adalah hilangnya kebersamaan sehari-hari.

Dia sangat merindukan perhatian dari istrinya, termasuk omelan yang kini tidak akan pernah didengarnya lagi.

"Momen yang terasa ketika hari-hari kita kan selalu sama almarhumah. Kayak misalkan selalu masakin tiap hari, saya makan juga ditungguin, dipanggil-panggil, 'Pak, Pak, makan dulu,' kayak gitu," saat berbicara di kediamannya di Kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Kamis (21/8).

"Terus hari-hari nih ngomelnya paling, 'Pak, kebiasaan lu naruh anduk sembarangan, taruh!' gitu, 'Taruh lagi di tempatnya'. Hari-hari itu sudah enggak ada lagi, hilang. Tapi walaupun enggak ada, tetap di hatinya selalu ada," akunya.

Saya Langsung Menangis

Curhat Suami Mpok Alpa, Rindu Kebersamaan Hingga Omelan Mendiang Istri
Mpok Alpa. [IG: @nina_mpokalpa] © 2025 Liputan6.com

Perasaan kehilangan yang mendalam membuat Aji Darmaji merasa tidak mampu untuk melihat foto-foto Mpok Alpa yang terpajang di rumahnya. Ketika ibunya bertanya mengapa foto-foto itu dihapus dari dinding, dia pun tidak bisa menahan air mata.

"Kan ibu kandung saya masih ada untuk menghibur saya. 'Lah ini kenapa dicopot-copotin?' Langsung saya nangis gitu," ungkapnya.

Dalam keadaan emosional tersebut, Aji tidak dapat memberikan jawaban, hanya bisa merasakan kesedihan yang mendalam.

Dia juga melihat si kembar dan anak-anak lainnya yang masih meneteskan air mata, menunjukkan betapa beratnya perasaan kehilangan yang mereka alami.

"Saya juga lihat si kembar, lihat anak-anak juga masih netesin air mata, enggak kuat," tambah Aji Darmaji.

Suasana haru dan kesedihan menyelimuti mereka, menggambarkan betapa eratnya ikatan yang terjalin dalam keluarga. Rasa duka ini menjadi pengingat akan kenangan indah yang pernah ada, meskipun kini hanya tersisa dalam ingatan.

Saya Pasti Tangguh

Aji Darmaji masih belum mampu untuk menyentuh barang-barang peninggalan Mpok Alpa, bahkan dia meminta agar barang-barang tersebut ditutupi agar tidak terlihat olehnya.

"Belum ada yang saya lihat dari barang-barangnya itu, malah saya suruh tutup-tutupi, eh tutupi kardus biar enggak saya lihat. Belum kuat, tapi suatu saat nanti pasti kuat, pasti saya kuat," tuturnya.

Keberadaan barang-barang tersebut seakan menjadi pengingat yang menyakitkan bagi Aji. Dia merasa bahwa saat ini emosinya belum siap untuk menghadapi kenangan yang tersimpan di dalam barang-barang itu.

Dengan harapan, dia meyakini bahwa di masa depan, ia akan mampu menghadapi semua itu dengan lebih baik. Aji percaya bahwa kekuatan akan datang pada saat yang tepat, sehingga ia bisa mengenang Mpok Alpa tanpa rasa sakit.

Tidur Hanya Satu Jam

Duka yang mendalam ini juga berpengaruh pada kesehatan fisik Aji. Dia mengungkapkan bahwa nafsu makannya menurun dan dia mengalami kesulitan untuk tidur, mirip dengan apa yang dirasakan oleh anak-anaknya.

Setiap kali dia berusaha untuk memejamkan mata, sosok almarhumah selalu hadir dalam pikirannya dan membuatnya terbangun.

"Ya, saya tidur cuma sejam, enggak bisa mejamin mata lama. Terbayang almarhumah langsung saya bangun. Biar enggak lebih sedih lagi. Saya berusaha untuk kuat jangan sampai saya juga begitu, anak-anak saya juga begitu. Saya harus kuat nih," jelas Aji Darmaji.

Rekomendasi