Aktris terkenal dari Taiwan, Barbie Hsu, telah meninggal dunia setelah menderita pneumonia saat berlibur di Jepang.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai apakah faktor lingkungan, kualitas udara, dan virus yang ada di Jepang turut berperan dalam memicu influenza yang akhirnya berkembang menjadi pneumonia berat yang dialaminya, seperti yang terjadi pada bintang Meteor Garden.
Dokter spesialis paru, Sri Dhuny Atas Asri, memberikan penjelasan mengenai hal ini. Ia menyatakan bahwa lingkungan bukanlah satu-satunya penyebab pneumonia berat yang dapat mengakibatkan kematian.
"Faktor udara, lingkungan, dan virus di Jepang dapat memengaruhi, tetapi tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya penyebab," jelas Dhuny kepada Health Liputan6.com pada Selasa, 4 Februari 2025.
Ia menambahkan bahwa influenza dapat terjadi di mana saja dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebersihan, ventilasi, serta vaksinasi.
Di Jepang, yang dikenal memiliki sistem kesehatan yang baik dan tingkat vaksinasi yang tinggi, risiko terjadinya influenza dan pneumonia seharusnya lebih rendah. Namun, Dhuny menekankan bahwa faktor-faktor lain tetap dapat berkontribusi.
"Perlu diingat bahwa Jepang memiliki sistem kesehatan yang baik dan tingkat vaksinasi yang tinggi, sehingga kemungkinan terjadinya influenza dan pneumonia dapat dikurangi," ungkapnya.
Selain itu, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko pneumonia berat setelah terinfeksi influenza, antara lain:
- Usia: Individu di atas 65 tahun atau di bawah 5 tahun lebih rentan terhadap pneumonia.
- Kondisi medis atau penyakit penyerta: Mereka yang menderita penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, atau penyakit paru-paru lebih rentan terhadap pneumonia.
- Sistem imun yang lemah: Orang dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS atau pasien yang menjalani kemoterapi, lebih rentan.
- Merokok: Kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan risiko terjadinya pneumonia.
Advertisement
Penyebab Influenza dapat Berujung pada Pneumonia
Dokter Dhuny memberikan penjelasan mengenai hubungan antara influenza dan pneumonia. Ia menjelaskan bahwa influenza dapat menyebabkan pneumonia melalui beberapa cara. Salah satunya adalah
Infeksi Sekunder
di mana influenza dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi sekunder, seperti infeksi bakteri yang menyebabkan pneumonia. Selain itu, ada juga faktor
Peradangan Paru
yang disebabkan oleh influenza, yang dapat memicu terjadinya peradangan di paru-paru dan berpotensi berkembang menjadi pneumonia. Terakhir, dokter Dhuny juga menyoroti
Kerusakan Jaringan Paru
, di mana infeksi influenza dapat merusak jaringan paru-paru, sehingga mengganggu kemampuan tubuh dalam menyerap oksigen dengan baik.
Advertisement
Gejala Flu yang Dapat Menunjukkan Perkembangan Menuju Pneumonia yang Berbahaya
Setelah kehilangan aktris tersebut, dokter Dhuny menjelaskan bahwa terdapat beberapa gejala flu yang dapat menunjukkan perkembangan menuju pneumonia yang berbahaya. Gejala-gejala ini meliputi:
- Demam tinggi yang tidak kunjung reda selama beberapa hari.
- Sesak napas yang semakin parah.
- Nyeri dada yang kian meningkat.
- Penurunan kesadaran atau munculnya kebingungan.
Gejala-gejala ini penting untuk diwaspadai, karena dapat menjadi tanda bahwa kondisi kesehatan seseorang sedang memburuk. Oleh karena itu, jika mengalami gejala tersebut, sangat disarankan untuk segera mencari pertolongan medis agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Advertisement
Tidak Semua Pneumonia Menyebabkan Kematian
Sebelumnya, Prof Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), telah memberikan penjelasan mengenai pneumonia. Ia menyatakan, "Khusus tentang kasus aktris Meteor Garden Barbie Hsu ini maka tentu perlu dicari tahu dulu kejelasan rekam mediknya, baru dari situ kita dapat gambaran jelas tentang hubungan antara virus influenza dan kejadian pneumonia-nya yang kemudian menyebabkan kematian," dalam pesan teks kepada Health Liputan6.com pada Senin (3/2/2025). Penjelasan ini menunjukkan pentingnya memahami rekam medis untuk menilai keterkaitan antara infeksi virus dan pneumonia yang dialami.
Lebih lanjut, Tjandra menjelaskan bahwa pneumonia dapat didiagnosis berdasarkan anamnesis, yang meliputi gejala dan keluhan pasien, serta hasil pemeriksaan fisik oleh dokter, seperti palpasi, perkusi, dan auskultasi menggunakan stetoskop. Selain itu, pemeriksaan radiologis dan laboratorium darah juga diperlukan untuk penegakan diagnosis. Pneumonia sendiri terbagi menjadi tiga kategori: ringan (mild), sedang (moderate), dan berat (severe). Ia menambahkan, "Pneumonia ringan kadang-kadang bahkan tidak perlu masuk rumah sakit, pneumonia sedang biasanya memang harus dirawat di RS, sementara pneumonia berat bahkan bukan tidak mungkin harus masuk ICU, pada keadaan tertentu," yang menunjukkan bahwa tingkat keparahan pneumonia berpengaruh pada perlunya perawatan medis.