Dewi Gita dikenal sebagai sosok yang selalu ceria dan tenang di hadapan publik. Namun, di balik penampilannya yang tenang, ia memiliki fobia yang cukup mengganggu.
Ibu dari satu anak ini mengungkapkan memiliki ketakutan terhadap ketinggian yang sudah ada sejak lama.
"Aku sempat mau tenggelam dulu, di rawa, ditolong sama saudara," ungkap Dewi saat dijumpai di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, pada hari Senin (21/4) lalu.
Menurut istri Armand Maulana ini, pengalaman menegangkan itu masih sering menjadi topik pembicaraan keluarga saat berkumpul. Momen yang awalnya menakutkan kini berubah menjadi cerita legenda dalam keluarga mereka.
"Sampai cerita sampai saat ini kalau lebaran tuh pasti di-refill sama saudara-saudara. Dan cucu emang bener," katanya.
Advertisement
Meskipun pengalaman traumatis yang dialaminya berkaitan dengan air, Dewi justru merasakan ketakutannya berkembang menjadi ketakutan akan ketinggian. Ia menyadari rasa takutnya semakin menguat seiring bertambahnya usia dan tanggung jawabnya sebagai orang tua.
“Sebenernya kalau trauma tuh lebih ke di air ya. Tapi kalau ketinggian nggak apa-apa,” ujarnya.
Menariknya, ia mengungkapkan masih bisa mentolerir ketinggian, seperti saat berada di gedung tinggi, asalkan ia tidak melihat ke bawah secara langsung. Dewi juga menambahkan beberapa orang lain mengalami situasi yang mirip dengan yang dialaminya.
“Kalau gedung tinggi asal aku nggak lihat. Kan ada yang dia naik ke situ. Dia juga nggak bisa,” katanya.
Asalkan tidak melihat pemandangan di bawah, Dewi mampu mengendalikan situasi dengan baik. Bahkan saat menggunakan lift di gedung yang tinggi, ia merasa masih bisa tetap tenang.
"Aku masih bisa. Asal nggak lihat aja aku ada di mana gitu," ujarnya.
Namun, saat ia harus melihat ke bawah dari ketinggian, rasa takut itu muncul secara tiba-tiba dan membuatnya merasa tidak nyaman. Ia berusaha keras untuk menjaga pandangannya tetap sempit dan terfokus.
"Karena kalau kita di gedung kan kalau di lift kan masih nggak lihat bawahnya," ucapnya.
Advertisement
Dewi pernah mengalami situasi panik ketika berada di jembatan kaca yang terletak di lantai tiga dan memiliki pandangan tembus. Meskipun jaraknya hanya beberapa meter dari permukaan tanah, pemandangan di bawah membuatnya kesulitan untuk melangkah.
“Kan waktu itu sempatnya kayak padahal cuma lantai 3. Tapi itu si jembatannya tembus. Yang kaca gitu. Nggak bisa aku nyebrang,” ungkapnya.
Ketakutan terhadap ketinggian semakin terasa setelah Dewi menjadi seorang ibu. Ia baru menyadari bahwa dirinya memiliki fobia ketika sering mengantar anaknya ke tempat-tempat wisata atau wahana yang menantang adrenalin.
“Mungkin lebih ke... realize-nya tuh aku takut ketinggian pas punya anak kali ya. Pas anak kita diajak ke mana,” tambahnya.
Advertisement
Setiap kali mengunjungi tempat hiburan, Dewi selalu memilih untuk menjadi penjaga tas daripada ikut serta dalam wahana yang menantang. Ia merasa lebih nyaman menikmati suasana dari bawah tanpa harus menghadapi tantangan yang ekstrem.
"Jagain tas aja. Udah jagain tas, jagain makanan. Udah seneng. Udah kalian main-main. Aku jagain tas," ungkapnya.
Meskipun pernah mengalami hampir tenggelam, Dewi mengaku tidak merasakan trauma yang berat terhadap air. Ia bahkan masih menikmati aktivitas berenang dengan santai.
"Nggak ada. Malahnya aku tadinya harusnya trauma karena aku sempet tenggelam," jelasnya.
Meski demikian pengalaman tersebut tidak menghalangi keinginannya untuk bersenang-senang dan beraktivitas di air. Dewi lebih memilih untuk menjaga barang-barang teman-temannya sambil merasakan kebahagiaan dari melihat mereka bersenang-senang.
Dalam menghadapi masalah pengobatan atau terapi untuk mengatasi fobia, Dewi lebih memilih pendekatan yang lebih santai. Dia menilai rasa takut tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang serius.
“Belum, belum. Udah lah. Menurut aku itu bukan penyakit. Itu manja. Manja aja itu mah. Udah lah. Diemin aja. Harus dilawan,” tegasnya.