Perbincangan tentang fenomena artis yang disawer kembali mencuat setelah Nathalie Holscher menunjukkan pendapatan sawerannya yang mencapai ratusan juta rupiah.
Praktik memberi uang secara langsung kepada artis saat mereka tampil sebenarnya sudah ada sejak lama dalam tradisi Indonesia. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, fenomena ini menjadi semakin kontroversial dengan jumlah yang semakin tinggi dan berbagai platform yang digunakan.
Walaupun ada yang melihat saweran sebagai bentuk apresiasi yang positif, banyak pula yang mengkritik praktik ini karena dianggap merendahkan martabat para artis. Beberapa artis bahkan telah menyatakan ketidaknyamanan mereka terkait praktik saweran yang terkadang disertai dengan pelecehan.
Pertanyaannya, bagaimana sebenarnya akar budaya dan perkembangan dari fenomena artis yang disawer ini?
Advertisement
Tradisi Saweran
Saweran merupakan bagian yang mendalam dari tradisi kesenian rakyat di Indonesia. Kata "sawer" sendiri diambil dari bahasa Sunda, yang berarti menaburkan atau memberikan uang.
Dalam berbagai kesenian tradisional, seperti tayub yang ada di Jawa Tengah, lengger di Banyumas, atau ronggeng di Jawa Barat, penonton biasanya memberikan uang kepada penari sebagai bentuk penghargaan atas penampilan mereka.
Secara tradisional, saweran dipahami sebagai ungkapan penghargaan dan dukungan finansial bagi para seniman. Dalam konteks budaya, saweran juga melambangkan interaksi langsung antara seniman dan penikmat seni.
Praktik saweran ini dilakukan dengan cara menyelipkan uang ke dalam saku penari, meletakkannya di atas nampan, atau bahkan menempelkannya langsung di dahi penari.
Di dunia panggung dangdut, fenomena saweran menjadi lebih kompleks. Artis dangdut sering kali menerima saweran dalam jumlah yang cukup besar, terutama saat tampil di acara-acara pribadi atau di klub malam.
Advertisement
Muncul Stigma Buruk
Walaupun memberikan keuntungan finansial, praktik saweran tetap diwarnai stigma negatif. Banyak orang menilai saweran, khususnya yang melibatkan penempelan uang pada tubuh artis, merupakan bentuk pelecehan yang terselubung. Stigma ini semakin menguat ketika saweran berlangsung di klub malam atau tempat hiburan dewasa.
Kritik terhadap praktik saweran juga datang dari para tokoh agama dan budayawan. Mereka menilai saweran modern telah menyimpang dari nilai-nilai tradisional yang seharusnya dijunjung tinggi.
Menurut mereka, saweran yang dulunya merupakan bentuk penghargaan terhadap budaya kini telah bergeser menjadi praktik yang lebih eksploitatif, sehingga merendahkan martabat para seniman.
Advertisement
Daftar Artis Penerima Saweran dengan Jumlah Fantastis
Nathalie Holscher bukanlah satu-satunya artis yang meraih saweran dengan jumlah yang sangat besar. Misalnya, Inul Daratista, seorang ikon dalam dunia dangdut Indonesia, pernah mendapat memperoleh saweran mencapai puluhan juta dalam satu malam pertunjukan.
Selain itu, Dewi Perssik juga dikenal sering menerima saweran yang besar, terutama saat tampil di acara-acara yang bersifat eksklusif.
Selain mereka, Nella Kharisma penyanyi dangdut terkenal dari Jawa Timur, juga sering kali mendapatkan saweran yang besar dari penggemar setia mereka. Ayu Ting Ting pun tidak ketinggalan, karena ia pernah menerima saweran berupa perhiasan dan uang tunai dalam jumlah yang signifikan.
Advertisement
Pembagian Hasil Saweran
Sering kali, pertanyaan yang muncul mengenai cara pembagian hasil saweran. Menurut penjelasan dari beberapa artis, mekanisme distribusi saweran bervariasi dan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara artis dan manajemen atau tim mereka. Beberapa artis memilih untuk membagi hasil saweran dengan anggota tim musik, penari latar, dan kru panggung dengan persentase tertentu.
Dalam beberapa situasi, artis utama biasanya menerima porsi yang lebih besar, berkisar antara 50-70% dari total saweran, sementara sisanya dialokasikan untuk tim pendukung.
Namun, ada juga artis yang memiliki perjanjian berbeda. Seluruh hasil saweran sepenuhnya menjadi hak milik artis, sementara tim pendukung menerima bayaran tetap dari manajemen.
Advertisement
Dampak Psikologis Artis
Tidak semua penyanyi merasa nyaman dengan tradisi saweran. Beberapa artis wanita di genre dangdut pernah menyatakan ketidaknyamanan mereka saat menerima saweran, terutama jika dilakukan dengan cara yang kurang sopan.
Meskipun demikian, mereka merasa terpaksa untuk menerima hal tersebut karena tuntutan dari profesi dan harapan penonton yang tinggi.
Dampak psikologis yang ditimbulkan oleh praktik saweran ini beragam. Bagi sebagian artis, saweran dapat menimbulkan rasa direndahkan dan diobjektifikasi. Namun, di sisi lain, ada juga yang menganggap saweran sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan atas kemampuan mereka.
Advertisement
Saweran Modern
Seiring dengan kemajuan zaman, praktik saweran telah mengalami perubahan yang sangat berarti. Kini, di era digital, saweran tidak hanya terjadi dalam bentuk pertunjukan langsung, tetapi juga telah menjangkau platform online.
Contohnya, di TikTok Live, penonton memiliki kesempatan untuk memberikan "gift" virtual, yang nantinya dapat diubah menjadi uang tunai bagi para kreator konten.