Rupiah Terus Terperosok, Harga Air Minum Dalam Kemasan Terancam Naik
Para pengusaha khawatir rupiah yang kian melemah akan semakin menggerogoti ongkos produksi.
Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo mengatakan jika rupiah terus terperosok lebih dalam, maka tidak menutup kemungkinan harga Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) akan ikut terkerek. Persoalannya, sejak awal 2026, rupiah melemah di kisaran 9-10 persen.
"Mau enggak mau pasti ada (dampaknya). Karena sekarang aja dari sisi selisih kursnya ada kurang lebih sekitar 9-10 persen kan dalam konteks sekarang dengan dibanding awal tahun. Kalau turun lebih dalam lagi, mau enggak mau pasti ada pengaruh," ujar dia di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Kondisi pengusaha AMDK saat ini, kata Triyono, penuh kebimbangan. Mereka masih terus untuk berupaya tidak menaikan harga AMDK. Namun di sisi lain, harus berhadapan dengan pelemahan daya beli masyarakat.
"Saat ini kalau menurut kami ya (pelemahan kurs rupiah) sekitar 10 persen masih bisa ditahan lah. Tapi berapa lama (bisa) nahannya, itu saja," tegas Tri.
Bahan Baku Impor, Ongkos Produksi Makin Digerogoti
Kenaikan ini bisa terjadi lantaran bahan baku produk minuman kemasan berasal dari impor. Ia pun khawatir rupiah yang kian melemah bakal semakin menggerogoti ongkos produksi.
"Jadi memang saat ini kita belum melihat terlalu banyak dampaknya, karena kan penurunannya baru sekitar 2-3 bulan terakhir ini penurunan kurs," kata Tri.
"Tapi kita ada concern, apakah ini penurunan kurs akan terus berlanjut atau tidak? Kemudian bagaimana ke depannya, ini yang kita harus jaga," dia menekankan.
Oleh karenanya, ia berharap pemerintah bisa lebih menjaga nilai tukar rupiah ke depan. Tri tak ingin penurunan kurs yang terlalu dalam bakal semakin berdampak terhadap harga bahan baku.
"Mudah-mudahan ini bisa dijaga, mudah-mudahan rupiah bisa diperbaiki nilai tukarnya, sehingga industri pun bisa melakukan planning dengan lebih baik lagi," pinta dia.
"Karena mau enggak mau dengan fluktuasi nilai tukar itu akan mengganggu dari sisi planning kita industri terkait dengan bagaimana kita mengimpor bahan baku, bagaimana kita investasi, dan lain sebagainya," tuturnya.